Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tips Pemilih » Kalau Banyak Orang Tidak Memilih, Siapa yang Menentukan?

Kalau Banyak Orang Tidak Memilih, Siapa yang Menentukan?

  • account_circle Yusri Razali
  • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Siribee.com » Bayangkan sebuah kelas berisi 100 orang. Guru meminta mereka menentukan ketua kelas. Namun, hanya 40 orang yang ikut memilih. Dari 40 orang itu, seseorang memperoleh 21 suara dan akhirnya menjadi ketua. Secara aturan, prosesnya sah.

Tetapi ada pertanyaan yang menarik, bagaimana dengan 60 orang yang tidak ikut menentukan?

Gambaran sederhana itu sebenarnya membantu kita memahami salah satu persoalan dalam demokrasi. Ketika banyak orang tidak menggunakan hak pilih, keputusan politik tetap akan dibuat. Kursi tetap terisi. Pemimpin tetap terpilih. Pemerintahan tetap berjalan.

Yang berubah adalah siapa yang paling banyak menentukan hasilnya.

Inilah hal yang sering luput dari pembicaraan tentang tidak memilih. Orang yang tidak datang ke TPS memang tidak memberikan suaranya kepada kandidat mana pun. Tetapi ketidakhadirannya membuat suara orang lain memiliki pengaruh relatif lebih besar terhadap hasil akhir.

Misalnya, dari 100 orang yang memiliki hak pilih, hanya 50 yang menggunakan haknya. Jika seorang kandidat memperoleh 26 suara, ia bisa menang. Artinya, keputusan tentang kepemimpinan seluruh kelompok dapat ditentukan oleh 26 orang.

Bukan karena 26 orang itu mengambil hak 74 orang lainnya. Melainkan karena demokrasi bekerja berdasarkan mereka yang menggunakan haknya.

Di sinilah memilih memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar mencoblos.

Memilih adalah cara seseorang ikut mengurangi ruang bagi orang lain untuk menentukan sesuatu atas namanya.

Tentu, tidak semua orang yang tidak memilih dapat disebut apatis. Ada yang kecewa, ada yang tidak percaya kepada kandidat, ada yang memiliki alasan pribadi dan ada pula yang menghadapi persoalan administratif atau keadaan yang membuatnya tidak bisa hadir.

Karena itu, masyarakat tidak semestinya hanya disalahkan ketika angka partisipasi turun. Penyelenggara pemilu, peserta pemilu, pemerintah, media dan masyarakat sipil juga memiliki pekerjaan rumah, membuat demokrasi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebab bagi sebagian orang, politik terlihat jauh. Mereka mendengar perdebatan tentang kekuasaan, partai dan jabatan, tetapi tidak selalu melihat hubungan langsungnya dengan harga kebutuhan pokok, pendidikan anak, pekerjaan, pelayanan publik, jalan, listrik, air, hingga masa depan daerah.

Padahal keputusan politik hampir selalu memiliki jalan menuju kehidupan sehari-hari.

Ada satu hal lagi yang lebih penting. Tidak memilih bukan berarti seseorang keluar dari pengaruh hasil pemilu.

Orang yang tidak memilih tetap hidup di bawah kebijakan pemerintah yang terbentuk. Tetap membayar pajak dan mengikuti aturan. Tetap menerima atau merasakan kualitas pelayanan publik. Anak-anaknya tetap bersekolah dalam sistem pendidikan yang kebijakannya ditentukan pemerintah.

Dengan kata lain, seseorang boleh tidak memilih, tetapi ia tidak bisa sepenuhnya memilih untuk tidak terkena dampak dari hasil pemilu.

Di sinilah demokrasi menjadi menarik. Kita tidak hanya memilih siapa yang kita sukai. Kita sebenarnya sedang menentukan siapa yang akan diberi kewenangan untuk membuat keputusan yang juga akan berdampak kepada orang yang berbeda pilihan dengan kita.

Karena itu, menjadi pemilih tidak harus berarti menjadi penggemar seorang kandidat.

Kita boleh kritis, boleh kecewa, boleh tidak menyukai semua pilihan yang tersedia. Bahkan, setelah pemilu selesai, kita tetap berhak mengawasi dan mengkritik mereka yang terpilih.

Tetapi sebelum semua itu, ada satu kesempatan yang hanya datang pada waktunya, ikut menentukan melalui suara sendiri.

Maka pertanyaan tentang pemilu sebenarnya bukan hanya, “Siapa yang akan saya pilih?”

Ada pertanyaan yang lebih mendasar, “Kalau saya tidak ikut menentukan, siapakah yang akan menentukan untuk saya?”

Demokrasi bukan tentang mencari pilihan yang sempurna. Demokrasi adalah tentang memastikan masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk ikut menentukan arah kekuasaan.

Satu suara mungkin terlihat kecil. Tetapi ketika jutaan suara dikumpulkan, suara yang tampak kecil itu berubah menjadi keputusan besar.

Dan mungkin, di situlah nilai sebenarnya dari sebuah suara, bukan karena satu suara selalu menentukan kemenangan, tetapi karena tanpa suara kita, kita menyerahkan sebagian ruang penentuan kepada mereka yang memilih untuk hadir.

  • Penulis: Yusri Razali
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Piagam Madinah dan Politik Islam: Fondasi Masyarakat yang Beragam

    Piagam Madinah dan Politik Islam: Fondasi Masyarakat yang Beragam

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 8
    • 0Komentar

    Oleh: Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd Dosen Fisip Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Siribee.com » Madinah bukanlah sebuah masyarakat yang sejak awal hidup dalam keadaan seragam, ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Yatsrib setelah hijrah dari Makkah pada 622 M, kota tersebut dihuni oleh berbagai kelompok dengan latar belakang suku, agama, dan kepentingan […]

  • Syekh Dawod, Putra Aceh, Dedikasikan Diri untuk Jamaah di Tanah Suci

    Syekh Dawod, Putra Aceh, Dedikasikan Diri untuk Jamaah di Tanah Suci

    • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Mekkah, Arab Saudi – Mekkah tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Islam, tetapi juga ladang pengabdian bagi mereka yang ingin melayani jamaah. Salah satu sosok putra Aceh yang menonjol dalam hal ini adalah Tgk. H. Darwin Lukman, Lc yang lebih dikenal sebagai Syekh Dawod. Setelah menyelesaikan pendidikan di Al Azhar Kairo pada 2019, Syekh Dawod memilih […]

  • Hasyim Asy’ari: Akurasi dan Transparansi Kunci Integritas Pemilu

    Hasyim Asy’ari: Akurasi dan Transparansi Kunci Integritas Pemilu

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Siribee.com » Banda Aceh – Integritas pemilu tidak semata-mata ditentukan oleh aturan, tetapi oleh sejauh mana setiap tahapan dapat dijalankan secara akurat, transparan, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari data pemilih, proses pemungutan, hingga penghitungan suara, seluruh mata rantai tersebut menentukan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu. Hal itu disampaikan Hasyim Asy’ari, mantan Ketua Komisi Pemilihan […]

  • Api yang Membakar Masjid Raya: Kisah Kelam Penjajahan Belanda

    Api yang Membakar Masjid Raya: Kisah Kelam Penjajahan Belanda

    • calendar_month Selasa, 19 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di pusat Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, terdapat Masjid Raya Baiturrahman, atau yang biasa disebut Meuseujid Raya Baiturrahman oleh masyarakat Aceh, sebuah masjid bersejarah yang memiliki nilai religius dan budaya tinggi. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1879 dan sejak saat itu menjadi lambang keagamaan sekaligus identitas budaya bagi masyarakat Aceh. Masjid Raya Baiturrahman, Simbol […]

  • 5 Ciri Hoaks Politik yang Wajib Diketahui

    5 Ciri Hoaks Politik yang Wajib Diketahui

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Siribee.com » Hoaks politik menjadi salah satu tantangan dalam membangun ruang demokrasi yang sehat. Informasi yang tidak benar dapat memengaruhi persepsi publik, memicu konflik, bahkan membuat masyarakat mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang keliru. Di era media sosial, informasi politik dapat menyebar dalam hitungan menit. Masalahnya, informasi yang viral belum tentu benar, karena itu, masyarakat perlu […]

  • Suara Rakyat dalam Perspektif Islam

    Suara Rakyat dalam Perspektif Islam

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Oleh: Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd Dosen Fisip Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Siribee.com » Demokrasi sering kali berhenti pada satu angka, berapa suara yang diperoleh. Setelah suara dihitung, pemenang diumumkan dan jabatan dibagi, seolah-olah urusan rakyat telah selesai, padahal tidak. Dalam perspektif Islam, suara rakyat bukan sekadar angka dalam kotak suara. Di […]

expand_less