Rabu, 30 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Secangkir Kopi di Sepertiga Malam

Secangkir Kopi di Sepertiga Malam

  • account_circle Lebah Senja
  • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
  • schedule 4 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cerpen oleh: Lebah Senja

Siribee.com » Malam selalu datang dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah tergesa-gesa. Perlahan ia menghapus warna jingga di ufuk barat, menyalakan bintang-bintang, lalu membungkus bumi dengan kesunyian yang hanya dipahami oleh mereka yang mencintainya.

Di saat rumah-rumah memadamkan lampu dan manusia menyerahkan lelahnya kepada tidur, masih ada segelintir jiwa yang justru memulai harinya. Mereka bukan pemburu dunia. Mereka adalah para pencari cahaya.

Di sebuah zawiyah sederhana di tepian kota tua, seorang lelaki renta duduk bersila di atas tikar yang mulai pudar warnanya. Wajahnya dipenuhi garis-garis usia, tetapi matanya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Di hadapannya terbentang mushaf Al-Qur’an yang telah menguning dimakan waktu. Di sampingnya, sebuah cangkir tanah liat mengepulkan aroma kopi hitam yang pekat.

Ia mengangkat cangkir itu perlahan.

Bukan untuk menikmati pahitnya.

Bukan pula untuk mencari kenikmatan dunia.

Tetapi agar kelopak matanya tetap setia menemani hati yang sedang berjalan menuju Tuhannya.

“Ya Allah,” bisiknya lirih, “jangan biarkan mataku terjaga sementara hatiku tertidur.”

Ia menyesap kopi itu sedikit demi sedikit. Pahitnya menyentuh lidah, hangatnya mengalir hingga ke dada. Namun ada rasa lain yang tak mampu dijelaskan oleh siapa pun. Rasa rindu yang tak pernah menemukan ujungnya.

Konon, berabad-abad silam, para sufi di tanah Yaman meminum kopi sebelum menghidupkan malam dengan zikir dan salat. Mereka menyebutnya bukan minuman kemewahan, melainkan teman perjalanan. Secangkir kopi hanyalah perahu kecil yang membantu mereka menyeberangi lautan kantuk agar dapat sampai pada pantai munajat.

Mereka tahu, musuh terbesar seorang pencinta bukanlah kemiskinan atau kesendirian.

Melainkan rasa lalai.

Malam semakin larut.

Angin berbisik lembut melalui celah-celah jendela kayu. Nyala pelita bergoyang pelan, seakan ikut berdzikir bersama penghuni ruangan itu. Tak ada suara selain lembaran Al-Qur’an yang dibalik, tasbih yang bergulir di antara jemari, dan sesekali bunyi cangkir yang kembali diletakkan dengan penuh hormat.

Setiap tegukan kopi seolah berkata,

“Bertahanlah sedikit lagi… mungkin malam ini doa-doamu akan sampai.”

Lelaki itu menangis.

Bukan karena hidupnya berat.

Bukan karena dunia telah mengecewakannya.

Ia menangis karena menyadari betapa sedikit rasa syukur yang telah ia persembahkan kepada Tuhan yang tak pernah berhenti memberinya kehidupan.

Air mata jatuh membasahi sajadah.

Di luar, dunia masih tertidur. Tak ada yang melihat tangisnya. Tak ada tepuk tangan. Tak ada pujian. Hanya Allah yang menjadi saksi.

Dan bukankah ibadah yang paling indah adalah ketika hanya Allah yang mengetahui?

Ia kembali menyesap kopinya.

Kini cangkir itu hampir kosong.

Namun justru ketika kopi mulai habis, hatinya terasa semakin penuh. Seolah setiap teguk telah mengikis debu-debu kesombongan, menggantinya dengan kerendahan hati.

Ia teringat ucapan gurunya dahulu,

“Jangan bangga karena mampu menghabiskan banyak cangkir kopi. Banggalah jika setiap teguk membuatmu semakin dekat kepada Allah. Sebab kopi tidak pernah membawa seseorang ke surga. Yang membawamu adalah hati yang hidup ketika mengingat-Nya.”

Malam terus berjalan menuju fajar.

Langit perlahan berubah warna.

Adzan Subuh tinggal menunggu waktu.

Lelaki tua itu menatap cangkir kosong di hadapannya. Ia tersenyum. Baginya, kopi itu hanyalah teman seperjalanan. Bukan tujuan.

Tujuannya adalah Allah.

Kopi hanyalah pengingat bahwa tubuh ini lemah, mudah mengantuk, mudah menyerah. Sedangkan jiwa selalu merindukan untuk lebih lama bersujud.

Fajar pun datang.

Burung-burung mulai bernyanyi.

Orang-orang terbangun untuk memulai urusan dunia, sementara lelaki itu telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanannya bersama langit.

Ia berdiri, merapikan sajadahnya, lalu memandang cangkir yang kini telah dingin.

Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berbisik,

“Terima kasih telah membantuku terjaga malam ini. Namun yang sesungguhnya menghidupkan hatiku bukanlah kopimu, melainkan kasih sayang Allah yang masih mengizinkanku menyebut nama-Nya hingga terbit fajar.”

Sejak saat itu, setiap kali seseorang mencium aroma kopi di sepertiga malam, mungkin yang sesungguhnya sedang tercium bukan hanya harum biji yang disangrai. Mungkin itu adalah jejak rindu para pencari Tuhan, mereka yang memilih berjaga ketika dunia terlelap, mereka yang menjadikan malam sebagai ruang pertemuan dengan Sang Kekasih.

Karena bagi para pencinta, secangkir kopi bukan sekadar minuman.

Ia adalah saksi bisu dari doa-doa yang dipanjatkan dalam gelap, air mata yang jatuh tanpa diketahui manusia dan kerinduan yang hanya dipahami oleh Allah.

» CATATAN: Cerpen ini hadir sebagai karya fiksi dari ruang imajinasi penulis. Tokoh, nama, tempat, peristiwa dan kisah yang terjalin di dalamnya merupakan rekaan. Kemiripan dengan kenyataan atau pihak tertentu tidak dimaksudkan sebagai penggambaran nyata.
  • Penulis: Lebah Senja

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sedekah Online: Apakah Sah dan Bagaimana Hukumnya?

    Sedekah Online: Apakah Sah dan Bagaimana Hukumnya?

    • calendar_month Kamis, 28 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di masa modern ini, dunia online nggak cuma untuk hiburan, tapi juga jadi sarana mudah buat berbagi kebaikan Jika dulu orang harus datang langsung ke masjid, lembaga zakat, atau mendatangi penerima bantuan, sekarang cukup dengan satu klik di smartphone, sedekah bisa tersalurkan. Namun muncul pertanyaan: apakah sedekah online sah dan bagaimana hukumnya dalam Islam? Apa […]

  • Gerakan Wakaf Siribee: Dari Seribu Rupiah, Bikin Media Positif Makin Hits!

    Gerakan Wakaf Siribee: Dari Seribu Rupiah, Bikin Media Positif Makin Hits!

    • calendar_month Sabtu, 23 Agt 2025
    • account_circle Sayed M. Husen
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di zaman sekarang, info tersebar super cepat. Sayangnya, yang sering viral justru hoaks, ujaran kebencian atau konten yang gak ada faedahnya. Padahal, media punya peran penting banget buat ngebentuk cara pikir masyarakat. Karena itu, hadirnya media yang positif, jujur dan mencerahkan jadi kebutuhan utama di era digital ini. Nah, biar media kayak gini bisa terus […]

  • Protes di DPR Memanas! Rakyat Lawan Privilege Politisi, Apa Sebenarnya yang Terjadi?

    Protes di DPR Memanas! Rakyat Lawan Privilege Politisi, Apa Sebenarnya yang Terjadi?

    • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Belakangan ini, suasana politik nasional kembali memanas. Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menjadi sorotan publik setelah gelombang protes dari masyarakat mencuat. Rakyat menuntut transparansi, akuntabilitas, serta menolak adanya privilege politisi yang dianggap semakin jauh dari realitas kehidupan sehari-hari warga. Protes yang terjadi bukan tanpa alasan. Sejumlah kebijakan yang dinilai lebih menguntungkan kelompok elite politik memicu […]

  • DPR Mulai Bahas RUU Pemilu, Seleksi Pansel KPU Dijadwalkan Oktober

    DPR Mulai Bahas RUU Pemilu, Seleksi Pansel KPU Dijadwalkan Oktober

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Yusrijal Abdar
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Jakarta – Pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu mulai bergerak memasuki tahap awal. DPR RI menyatakan akan membuka pembicaraan secara terbatas bersama para pimpinan fraksi, sembari melanjutkan komunikasi politik dan penyerapan aspirasi dari partai politik nonparlemen. Langkah tersebut menjadi penting karena perubahan aturan Pemilu akan menjadi salah satu fondasi penyelenggaraan Pemilu 2029. Pada saat yang sama, DPR mulai mengantisipasi […]

  • Mengenal Pergantian Antarwaktu: Bagaimana Kursi Legislatif yang Kosong Diisi?

    Mengenal Pergantian Antarwaktu: Bagaimana Kursi Legislatif yang Kosong Diisi?

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Ketika seorang anggota DPR berhenti sebelum masa jabatannya berakhir, pertanyaan yang sering muncul adalah siapa yang akan menggantikannya dan bagaimana prosesnya? Pertanyaan yang sama juga dapat muncul di tingkat daerah ketika anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota berhenti di tengah masa jabatan. Bagi masyarakat, pergantian tersebut mungkin terlihat sederhana, ada satu kursi yang […]

  • Abu Doto Telah Pergi, Jejak Pembangunannya Tetap Hidup

    Abu Doto Telah Pergi, Jejak Pembangunannya Tetap Hidup

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Aceh kembali berduka. dr. H. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto meninggal pada 13 Juni 2026 dalam usia 86 tahun. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kehilangan bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga bagi masyarakat Aceh yang mengenalnya sebagai tokoh perjuangan, perintis perdamaian dan pemimpin yang meninggalkan jejak pembangunan nyata di tanah rencong. […]

expand_less