Amplop di Bawah Piring
- account_circle Lebah Senja
- calendar_month 13 jam yang lalu
- schedule 5 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Malam itu, rumah Mak Salmah lebih ramai daripada biasanya. Beberapa orang duduk bersila di atas tikar pandan, sementara aroma gulai kambing dan kopi hitam memenuhi ruang tengah yang dindingnya mulai kusam dimakan usia.
Di luar, suara sepeda motor sesekali memecah kesunyian kampung. Besok pagi, warga akan pergi ke tempat pemungutan suara untuk memilih pemimpin yang katanya akan membawa perubahan. Di layar televisi, wajah para calon masih tersenyum dengan janji-janji yang terdengar begitu indah, seolah-olah kemiskinan bisa diusir hanya dengan beberapa patah kata.
Mak Salmah tidak terlalu mengerti politik, tetapi ia tahu harga beras naik, harga ikan makin mahal, dan uang sekolah cucunya sering membuat ia harus menghitung ulang isi dompet. Baginya, pemimpin yang baik adalah orang yang mau mendengar keluhan rakyat, bukan orang yang datang hanya ketika membutuhkan suara.
Menjelang tengah malam, seorang lelaki berbaju rapi datang bersama dua orang pemuda. Namanya Pak Rahman, orang yang beberapa bulan terakhir sering muncul di kampung dengan membawa bantuan dan menyapa warga seolah-olah mereka sudah lama bersahabat, ia dikenal sebagai orang dekat salah satu calon kepala daerah.
Malam itu, ia tidak membawa pengeras suara atau selebaran kampanye, ia hanya membawa senyum, beberapa bungkus rokok, dan sebuah tas hitam yang diletakkan di samping kursinya.
Setelah berbasa basi tentang cuaca, hasil panen, dan jalan kampung yang tak kunjung diperbaiki, Pak Rahman perlahan mengarahkan pembicaraan pada calon yang didukungnya, ia bercerita tentang keinginan calon itu membangun kampung dan memperbaiki kehidupan warga. Menurutnya, orang yang punya niat baik harus diberi kesempatan untuk memimpin.
Tak seorang pun menyela, beberapa warga mengangguk pelan, sementara yang lain tetap sibuk menyeruput kopi. Mereka sudah sering mendengar janji serupa setiap musim pemilihan, dan dari pengalaman sebelumnya, mereka tahu bahwa kedatangan orang-orang seperti Pak Rahman biasanya tidak berhenti pada urusan janji dan harapan.
Amplop di Balik Janji Manis
Ketika hidangan mulai disajikan, Pak Rahman mengeluarkan beberapa amplop cokelat dari dalam tasnya. Gerakannya tenang, hampir seperti seseorang yang sedang membagikan undangan kenduri. Amplop-amplop itu diletakkan di bawah piring, satu per satu, sambil disertai bisikan pendek agar tidak membuat orang lain merasa sungkan.
Mak Salmah yang duduk dekat pintu memperhatikan semuanya, ia melihat seorang tetangga menyelipkan amplop ke dalam saku baju, seorang lainnya buru-buru menutupinya dengan kain sarung, dan seorang lelaki tua tersenyum kecil sambil berkata bahwa rezeki tidak boleh ditolak.
Tidak ada yang menyebut nama perbuatan itu. Mereka menyebutnya uang bantuan, pengganti lelah, atau sekadar tanda persahabatan. Kata-kata memang sering menjadi pakaian paling rapi bagi sesuatu yang sebenarnya memalukan.
Ketika giliran Mak Salmah tiba, Pak Rahman menggeser sebuah piring ke hadapannya. Di bawah piring itu terselip amplop putih yang agak tebal. “Untuk kebutuhan di rumah, Mak, tidak seberapa, tetapi mudah-mudahan bermanfaat,” katanya dengan suara lembut.
Mak Salmah tidak segera mengambilnya, ia memandang amplop itu lama-lama, lalu teringat anaknya yang merantau dan sudah tiga bulan belum mengirim uang. Ia teringat cucunya yang sudah lama menginginkan sepatu baru untuk sekolah, sementara beras di rumah hampir habis.
Uang di dalam amplop itu mungkin cukup untuk membeli beras, minyak goreng, dan beberapa kebutuhan dapur selama beberapa hari. Ia hidup pas-pasan, sehingga menolak uang bukan perkara mudah baginya. Namun, ada sesuatu dalam dadanya yang terasa berat, seperti batu kecil yang tiba-tiba jatuh ke dalam sumur dan tak pernah terdengar lagi bunyinya.
“Kalau saya menerima ini, besok saya harus memilih siapa?” tanyanya pelan.
Pak Rahman terkekeh pelan, seakan pertanyaan itu tak lebih dari gurauan biasa. “Tidak ada yang memaksa, Mak. Kami cuma berharap Mak ingat kepada orang yang sudah membantu.”
“Kalau begitu, ini bukan bantuan, ya? Ini titipan untuk membeli pilihan saya?”
Senyum Pak Rahman perlahan menghilang, salah seorang pemuda yang duduk di sampingnya mulai gelisah, sementara orang-orang di ruangan itu mendadak sibuk menatap piring dan gelas mereka, tak seorang pun ingin ikut campur.
Mak Salmah mengangkat piringnya, mengambil amplop itu, lalu meletakkannya kembali di atas meja, tepat di hadapan Pak Rahman. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut kepada lelaki itu, melainkan karena ia tahu keputusan kecil tersebut mungkin membuat kebutuhan rumahnya tetap tak terpenuhi esok hari.
“Uang Mak memang tak banyak,” katanya pelan, “tapi suara Mak tetap satu, kalau suara itu bisa dibeli malam ini, besok siapa yang akan mendengar keluhan kami? Kalau jalan kampung tetap berlubang, kalau anak-anak tetap kesulitan sekolah, apakah amplop ini bisa kami datangi untuk meminta pertolongan?”
Tak ada jawaban. Pak Rahman memasukkan kembali amplop itu ke dalam tasnya, lalu berpamitan dengan alasan masih ada rumah lain yang harus dikunjungi. Setelah para tamu pulang, Mak Salmah membereskan piring-piring kotor sendirian, ia tidak merasa menang. Besok pagi, ia masih harus memikirkan beras, uang sekolah, dan kebutuhan hidup yang tak pernah menunggu siapa pun.
Menolak amplop itu tidak serta-merta mengubah nasibnya, apalagi mengubah cara orang berpolitik di kampungnya. Namun, setidaknya malam itu ia tahu bahwa kemiskinan boleh membuat seseorang kesulitan membeli kebutuhan hidup, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menjual hak menentukan masa depan.
Pagi harinya, Mak Salmah berjalan menuju tempat pemungutan suara dengan sandal usang dan kerudung yang warnanya mulai pudar. Di tangannya hanya ada kartu identitas dan surat pemberitahuan memilih, ia tidak membawa janji siapa pun, juga tidak membawa utang budi kepada calon mana pun.
Ketika berdiri di bilik suara, ia teringat amplop yang semalam bersembunyi di bawah piring. Ia lalu mencoblos pilihannya sendiri, dengan kesadaran bahwa satu tusukan kecil pada kertas suara mungkin tampak tidak berarti, tetapi kebebasan menentukan pilihan adalah sesuatu yang tak semestinya diserahkan kepada siapa pun.
Di luar TPS, matahari mulai meninggi, orang-orang pulang dengan harapan masing-masing. Di rumah Mak Salmah, piring-piring kembali rapi di rak, seolah tak pernah ada yang datang. Tak ada lagi amplop di bawahnya, hanya ada sebuah piring kosong yang menunggu diisi, seperti perut rakyat yang tak pernah kenyang oleh janji, apalagi oleh uang yang diberikan sekali lalu dilupakan setelah suara berhasil dibeli.
- Penulis: Lebah Senja

Saat ini belum ada komentar