Jalan yang Tak Pernah Selesai
- account_circle Lebah Senja
- calendar_month 18 jam yang lalu
- schedule 4 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hujan turun sejak subuh di Desa Paya Reuloh. Dari beranda rumahnya, Pak Usman memandang jalan yang membentang di depan rumah, jalan yang lebih banyak menyimpan lumpur daripada kenangan tentang aspal. Air menggenang di lubang-lubang, mengalir pelan di antara batu dan tanah yang terkelupas.
Sesekali, sebuah sepeda motor melintas dengan susah payah, pengendaranya harus pandai memilih pijakan, sebab sedikit saja salah mengambil arah, roda akan terperosok dan pakaian bersih yang dikenakan sejak pagi bisa berakhir berlumur tanah.
Di jalan itulah anak-anak berangkat sekolah, para petani membawa hasil kebun, dan orang sakit dibawa menuju puskesmas. Bagi orang yang tinggal di kota, jalan mungkin sekadar penghubung antara satu tempat dan tempat lain. Namun, bagi warga Paya Reuloh, jalan itu menentukan banyak hal, berapa lama mereka sampai ke pasar, berapa banyak hasil panen yang bisa dijual, bahkan seberapa cepat pertolongan datang ketika seseorang jatuh sakit.
Anehnya, jalan itu selalu tampak menjanjikan setiap kali musim pemilihan tiba.
Pak Usman masih ingat lima tahun silam, ketika seorang calon bupati datang ke desanya dengan kemeja putih dan senyum yang lebar. Di halaman meunasah, di hadapan puluhan warga, lelaki itu berjanji akan mengaspal jalan sampai ke ujung kampung. Katanya, pembangunan harus dimulai dari kebutuhan rakyat. Katanya lagi, tak boleh ada warga yang merasa ditinggalkan hanya karena tinggal jauh dari pusat pemerintahan.
Warga bertepuk tangan, sebagian tersenyum lega, sebagian lain saling berbisik dengan mata berbinar. Pak Usman pun ikut berharap, ia tidak meminta jalan yang lebar atau aspal yang mulus seperti di kota, cukuplah jalan yang bisa dilewati tanpa membuat orang harus berdoa setiap kali hujan turun.
Calon itu kemudian terpilih menjadi bupati. Pada bulan-bulan pertama, warga masih menunggu dengan sabar, mereka mengira pemerintah sedang menyusun rencana, menghitung anggaran, atau mencari waktu yang tepat untuk memulai pekerjaan.
Setahun berlalu, jalan itu belum berubah, dua tahun kemudian, lubang-lubangnya semakin dalam. Sementara itu, wajah sang bupati yang dahulu terpampang gagah di baliho mulai pudar, digerus panas dan hujan, seperti janji yang perlahan kehilangan maknanya.
Kini, Pilkada kembali mendekat, mobil-mobil kampanye memasuki desa, membawa bendera partai, pengeras suara, dan orang-orang yang pandai menyebut harapan dengan suara lantang. Di antara mereka ada Rahman, calon bupati yang masih muda, seorang pengusaha yang katanya ingin mengabdikan diri kepada masyarakat.
Di hadapan warga Paya Reuloh, Rahman berdiri di atas panggung sederhana, ia berbicara tentang perubahan, kesejahteraan, dan pembangunan yang merata. Kemudian, seperti para pendahulunya, ia menyebut jalan desa itu sebagai salah satu prioritas.
“Kalau saya diberi amanah, satu tahun cukup untuk menyelesaikan jalan ini,” katanya. “Saya tidak ingin masyarakat terus menderita karena persoalan yang seharusnya sudah lama selesai.”
Tepuk tangan segera memenuhi halaman meunasah. Orang-orang yang telah lama menunggu mulai saling pandang, barangkali kali ini berbeda, pikir mereka, barangkali orang muda itu sungguh-sungguh
Pak Usman duduk di barisan belakang, di bawah pohon asam yang rindang, ia tidak ikut bertepuk tangan, tetapi juga tidak mencibir, ia hanya mendengarkan, sebagaimana seseorang mendengarkan hujan yang turun di atap rumah, berharap hujan segera reda, meski tahu ia tak bisa memaksanya berhenti.
Seusai acara, Rahman menghampirinya. “Bagaimana menurut Bapak? Apakah masyarakat masih percaya kepada saya?”
Pak Usman membetulkan letak pecinya, lalu memandang wajah lelaki muda itu. “Kepercayaan itu seperti padi, Nak. Tidak tumbuh hanya karena benih ditabur, tanah mesti diolah, air mesti dijaga, dan orang harus bersedia menunggu sampai panen. Kalau datang hanya untuk menanam janji, lalu pergi sebelum hasilnya terlihat, apa yang bisa kami tuai?”
Rahman terdiam, ia kemudian tersenyum tipis, menjabat tangan Pak Usman, lalu berpamitan menuju desa berikutnya. Dari kejauhan, suara pengeras kampanye masih terdengar, bercampur deru kendaraan yang meninggalkan debu di jalan berlubang.
Hari pemungutan suara datang beberapa minggu kemudian. Pagi itu, warga berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara. Ada yang datang dengan keyakinan, ada yang membawa keraguan, dan ada pula yang sekadar ingin menunaikan haknya.
Pak Usman datang bersama istrinya, ia mencoblos tanpa banyak berpikir tentang siapa yang paling pandai berpidato. Baginya, memilih pemimpin bukan soal siapa yang paling manis menyusun kata, melainkan siapa yang kelak bersedia memikul tanggung jawab ketika sorak-sorai telah berhenti.
Rahman menang.
Di Paya Reuloh, kabar kemenangan itu disambut dengan harapan baru. Beberapa bulan setelah pelantikan, alat berat akhirnya datang. Truk-truk membawa material, para pekerja meratakan tanah, dan badan jalan mulai dibentuk. Anak-anak berkerumun di tepi jalan, menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya mereka dengar dalam janji kampanye.
- Penulis: Lebah Senja

Saat ini belum ada komentar