Jumat, 23 Okt 2026
light_mode
Trending
Beranda » Cerpen » Jalan yang Tak Pernah Selesai

Jalan yang Tak Pernah Selesai

  • account_circle Lebah Senja
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dukung Siribee

Jika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme Siribee.

Pak Usman sendiri beberapa kali keluar dari rumah, berdiri di bawah pohon asam, memperhatikan pekerjaan yang berjalan dari pagi hingga sore.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa mungkin kali ini mereka tidak sedang menunggu sesuatu yang sia-sia.

Namun, pekerjaan itu berhenti ketika baru mencapai pertengahan desa. Mula-mula, warga mengira para pekerja sedang beristirahat. Sehari berlalu, kemudian beberapa hari. Alat berat tak lagi bergerak. Truk-truk pengangkut material tidak datang. Papan proyek masih berdiri di pinggir jalan, tetapi tak seorang pun bisa memastikan kapan pekerjaan akan dilanjutkan.

Kabar yang beredar simpang siur, ada yang mengatakan anggaran belum tersedia, ada yang menyebut persoalan teknis, sementara yang lain memilih diam karena lelah berharap. Ketika hujan kembali turun, air menggenangi bagian jalan yang belum selesai. Tanah yang sempat diratakan mulai terkikis, lubang-lubang lama tetap menganga, seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar bergerak di desa itu

Suatu sore, Pak Usman duduk bersama beberapa pemuda di meunasah, mereka membicarakan jalan yang kembali terbengkalai. Kali ini, tak ada yang mengusulkan untuk sekadar menunggu.

Mereka mulai mencatat bagian pekerjaan yang telah selesai, memotret kerusakan, dan mengumpulkan informasi tentang proyek tersebut. Mereka meminta pemerintah desa mengadakan pertemuan dengan pihak kabupaten. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, kapan pekerjaan dilanjutkan, dan bagaimana warga bisa ikut mengawasi.

“Jangan sampai kita baru ribut ketika musim kampanye datang lagi,” kata seorang pemuda.

Pak Usman mengangguk, ia senang mendengar kalimat itu, sebab akhirnya ada yang memahami bahwa persoalan jalan bukan urusan lima tahun sekali.

Pertemuan terbuka pun digelar, warga datang membawa pertanyaan, bukan lagi sekadar harapan. Pemerintah daerah menjelaskan kendala yang dihadapi dan menyampaikan rencana kelanjutan pekerjaan. Tidak semua orang puas dengan jawaban yang diberikan. Namun, warga sepakat untuk terus meminta perkembangan yang jelas dan memastikan janji itu tidak kembali tenggelam bersama hujan.

Pagi berikutnya, Pak Usman melewati jalan itu dengan sepeda motornya. Sebagian telah mengeras, sebagian lainnya masih berlumpur, ia memperlambat laju kendaraan ketika melihat beberapa anak berjalan menuju sekolah, menghindari genangan yang tersisa. Dari kejauhan, matahari muncul di balik awan, menyinari jalan yang belum juga menemukan ujungnya.

Pak Usman tahu, jalan itu mungkin tidak akan selesai hari ini, bahkan belum tentu besok. Tetapi ia juga tahu bahwa perubahan tidak selalu dimulai ketika seorang pemimpin datang membawa janji. Kadang-kadang, perubahan tumbuh ketika orang-orang biasa berhenti menyerahkan seluruh harapan mereka kepada orang lain.

Pilkada telah usai, bendera-bendera partai perlahan menghilang, baliho para calon diturunkan, dan panggung kampanye dibongkar, yang tertinggal hanyalah pekerjaan yang harus dituntaskan dan janji yang harus dibuktikan.

Di Paya Reuloh, jalan itu masih menunggu aspalnya. Namun, warga tak lagi berdiri di pinggirnya sebagai penonton yang pasrah. Mereka mulai mengerti bahwa memilih pemimpin hanyalah permulaan, sedangkan menjaga agar kekuasaan tetap bekerja untuk rakyat adalah perjalanan yang jauh lebih panjang.

Sebab sebuah jalan tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan membentangkan aspal. Ia baru menemukan ujungnya ketika anak-anak dapat berangkat sekolah tanpa takut terjatuh, petani dapat membawa hasil panen tanpa kehilangan sebagian pendapatan, dan orang sakit dapat sampai ke puskesmas tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.

Dan selama semua itu belum menjadi kenyataan, jalan tersebut akan terus mengingatkan mereka: bahwa janji boleh diucapkan dalam satu malam, tetapi tanggung jawab harus dibuktikan setiap hari.

Tags
  • Penulis: Lebah Senja

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Politik Tanpa Kehilangan Nurani

    Politik Tanpa Kehilangan Nurani

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Dukung SiribeeJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme Siribee.Traktir Kopi ›Nurani sebagai “Rem” Kekuasaan Dalam kehidupan politik, aturan hukum merupakan pagar, institusi menjadi mekanisme pengawasan. Pers menjadi salah satu mata publik, masyarakat sipil menjadi bagian dari kontrol demokratis, tetapi ada satu mekanisme yang bekerja lebih dalam “nurani”. Nurani adalah […]

  • Abu Daud Beureueh: Cahaya dari Aceh yang Layak Jadi Pahlawan Nasional

    Abu Daud Beureueh: Cahaya dari Aceh yang Layak Jadi Pahlawan Nasional

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Dukung SiribeeJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme Siribee.Traktir Kopi ›Siribee.com – Teungku Muhammad Daud Beureueh, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Daud Beureueh, merupakan sosok yang tidak hanya berperan penting di Aceh, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia adalah ulama, pejuang, sekaligus pemimpin […]

  • Aksi Demonstrasi: Suara Rakyat atau Agenda Politik?

    Aksi Demonstrasi: Suara Rakyat atau Agenda Politik?

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Dukung SiribeeJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme Siribee.Traktir Kopi ›Siribee.com – Demonstrasi kerap menjadi wajah nyata dari kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi. Ribuan massa memenuhi jalanan, mengangkat poster, meneriakkan aspirasi dan menyampaikan orasi dengan penuh semangat. Namun, di balik dinamika tersebut, pertanyaan besar selalu muncul, apakah aksi demonstrasi benar-benar […]

  • Hati sebagai Basis Peradaban: Perspektif Etika Islam

    Hati sebagai Basis Peradaban: Perspektif Etika Islam

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Dukung SiribeeJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme Siribee.Traktir Kopi › Oleh: Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd. — Dosen Fisip Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Dalam sejarah manusia, peradaban sering dipahami sebagai kemajuan lahiriah ditandai oleh kemegahan kota, teknologi, ilmu pengetahuan, dan budaya. Namun, ada satu peradaban […]

  • Rukun, Wajib dan Larangan Umrah: Panduan Lengkap untuk Jamaah

    Rukun, Wajib dan Larangan Umrah: Panduan Lengkap untuk Jamaah

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Dukung SiribeeJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme Siribee.Traktir Kopi ›Umrah termasuk ibadah sunnah yang memiliki nilai rohani tinggi dan mampu memperkuat keimanan setiap Muslim. Agar ibadah umrah sah dan diterima, setiap jamaah perlu memahami rukun, wajib serta larangan umrah. Artikel ini menjelaskan ketiganya secara lengkap dan mudah dipahami. […]

  • Haji Aceh dan Ketakutan Kolonial terhadap Kekuatan Umat

    Haji Aceh dan Ketakutan Kolonial terhadap Kekuatan Umat

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Dukung SiribeeJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme Siribee.Traktir Kopi ›Karena itu, sejarah haji Aceh tidak seharusnya hanya dipahami sebagai catatan masa lalu. Ia merupakan cermin yang menunjukkan bagaimana agama, ilmu pengetahuan, dan kesadaran sosial dapat bertemu dalam satu ruang yang sama. Dari pertemuan itulah lahir kekuatan masyarakat yang […]

expand_less