Jalan yang Tak Pernah Selesai
- account_circle Lebah Senja
- calendar_month 19 jam yang lalu
- schedule 3 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pak Usman sendiri beberapa kali keluar dari rumah, berdiri di bawah pohon asam, memperhatikan pekerjaan yang berjalan dari pagi hingga sore.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa mungkin kali ini mereka tidak sedang menunggu sesuatu yang sia-sia.
Namun, pekerjaan itu berhenti ketika baru mencapai pertengahan desa. Mula-mula, warga mengira para pekerja sedang beristirahat. Sehari berlalu, kemudian beberapa hari. Alat berat tak lagi bergerak. Truk-truk pengangkut material tidak datang. Papan proyek masih berdiri di pinggir jalan, tetapi tak seorang pun bisa memastikan kapan pekerjaan akan dilanjutkan.
Kabar yang beredar simpang siur, ada yang mengatakan anggaran belum tersedia, ada yang menyebut persoalan teknis, sementara yang lain memilih diam karena lelah berharap. Ketika hujan kembali turun, air menggenangi bagian jalan yang belum selesai. Tanah yang sempat diratakan mulai terkikis, lubang-lubang lama tetap menganga, seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar bergerak di desa itu
Suatu sore, Pak Usman duduk bersama beberapa pemuda di meunasah, mereka membicarakan jalan yang kembali terbengkalai. Kali ini, tak ada yang mengusulkan untuk sekadar menunggu.
Mereka mulai mencatat bagian pekerjaan yang telah selesai, memotret kerusakan, dan mengumpulkan informasi tentang proyek tersebut. Mereka meminta pemerintah desa mengadakan pertemuan dengan pihak kabupaten. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, kapan pekerjaan dilanjutkan, dan bagaimana warga bisa ikut mengawasi.
“Jangan sampai kita baru ribut ketika musim kampanye datang lagi,” kata seorang pemuda.
Pak Usman mengangguk, ia senang mendengar kalimat itu, sebab akhirnya ada yang memahami bahwa persoalan jalan bukan urusan lima tahun sekali.
Pertemuan terbuka pun digelar, warga datang membawa pertanyaan, bukan lagi sekadar harapan. Pemerintah daerah menjelaskan kendala yang dihadapi dan menyampaikan rencana kelanjutan pekerjaan. Tidak semua orang puas dengan jawaban yang diberikan. Namun, warga sepakat untuk terus meminta perkembangan yang jelas dan memastikan janji itu tidak kembali tenggelam bersama hujan.
Pagi berikutnya, Pak Usman melewati jalan itu dengan sepeda motornya. Sebagian telah mengeras, sebagian lainnya masih berlumpur, ia memperlambat laju kendaraan ketika melihat beberapa anak berjalan menuju sekolah, menghindari genangan yang tersisa. Dari kejauhan, matahari muncul di balik awan, menyinari jalan yang belum juga menemukan ujungnya.
Pak Usman tahu, jalan itu mungkin tidak akan selesai hari ini, bahkan belum tentu besok. Tetapi ia juga tahu bahwa perubahan tidak selalu dimulai ketika seorang pemimpin datang membawa janji. Kadang-kadang, perubahan tumbuh ketika orang-orang biasa berhenti menyerahkan seluruh harapan mereka kepada orang lain.
Pilkada telah usai, bendera-bendera partai perlahan menghilang, baliho para calon diturunkan, dan panggung kampanye dibongkar, yang tertinggal hanyalah pekerjaan yang harus dituntaskan dan janji yang harus dibuktikan.
Di Paya Reuloh, jalan itu masih menunggu aspalnya. Namun, warga tak lagi berdiri di pinggirnya sebagai penonton yang pasrah. Mereka mulai mengerti bahwa memilih pemimpin hanyalah permulaan, sedangkan menjaga agar kekuasaan tetap bekerja untuk rakyat adalah perjalanan yang jauh lebih panjang.
Sebab sebuah jalan tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan membentangkan aspal. Ia baru menemukan ujungnya ketika anak-anak dapat berangkat sekolah tanpa takut terjatuh, petani dapat membawa hasil panen tanpa kehilangan sebagian pendapatan, dan orang sakit dapat sampai ke puskesmas tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.
Dan selama semua itu belum menjadi kenyataan, jalan tersebut akan terus mengingatkan mereka: bahwa janji boleh diucapkan dalam satu malam, tetapi tanggung jawab harus dibuktikan setiap hari.
- Penulis: Lebah Senja

Saat ini belum ada komentar