Pemuda dan Masjid: Kunci Membangun Peradaban dan Budaya Demokrasi
- account_circle Muhammad Yusuf
- calendar_month 15 jam yang lalu
- schedule 3 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Calang, Siribee.com – Masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, memperluas pengetahuan, dan menumbuhkan kepedulian sosial generasi muda. Peran ini penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pemuda, mulai dari persoalan keimanan hingga kemandirian ekonomi.
Pesan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Khutbah Jumat yang disampaikan Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd., di Masjid Agung Baitul Izzah, Kabupaten Aceh Jaya, Jumat (16/10/2026).
Pembinaan pemuda perlu dilakukan secara menyeluruh. Generasi muda tidak cukup hanya dibekali pengetahuan agama, tetapi juga perlu memiliki wawasan luas, keterampilan, kemandirian, serta ketahanan fisik dan mental agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Empat Tantangan yang Dihadapi Generasi Muda
Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembinaan pemuda adalah bagaimana menumbuhkan pemahaman akidah yang kuat dan membiasakan mereka menjalankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kesibukan, pengaruh pergaulan, dan perkembangan teknologi, anak muda kerap dihadapkan pada berbagai hal yang dapat mengalihkan perhatian dari nilai-nilai agama. Jika tidak diimbangi dengan bimbingan yang tepat, kedekatan dengan Allah dan kesadaran untuk menjalankan tanggung jawab sehari-hari bisa semakin terabaikan.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan pengetahuan dan kemampuan berpikir. Pemuda membutuhkan akses pendidikan, kebiasaan membaca, serta kemampuan memilah informasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, mereka juga perlu belajar membedakan fakta, opini, dan kabar bohong agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Persoalan ekonomi turut menentukan ruang gerak generasi muda. Keterbatasan keterampilan dan kesempatan kerja dapat menghambat mereka untuk mandiri. Sementara itu, kesehatan fisik dan ketahanan mental juga tidak boleh diabaikan karena keduanya berpengaruh terhadap kemampuan seseorang menjalani pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.
Keempat persoalan tersebut saling berkaitan. Penguatan iman perlu berjalan bersama peningkatan ilmu, keterampilan ekonomi, dan kemampuan menghadapi tekanan hidup.
Pendidikan dan Keteladanan Berawal dari Lingkungan Terdekat
Pembinaan pemuda membutuhkan pendidikan yang berkelanjutan dan contoh nyata dari orang-orang di sekitarnya. Nasihat akan lebih mudah diterima ketika orang tua, guru, tokoh agama, dan pemimpin masyarakat menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai yang diajarkan.
Masjid dapat mengambil peran melalui kajian keagamaan, diskusi, kegiatan sosial, serta ruang belajar yang melibatkan anak muda. Kegiatan tersebut perlu memberi kesempatan kepada pemuda untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan ikut mengambil tanggung jawab.
Pendekatan yang terbuka membuat masjid lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Mereka tidak hanya hadir untuk mengikuti kegiatan, tetapi juga dapat terlibat dalam merancang program, mengelola kegiatan, dan membantu masyarakat di sekitarnya.
Al-Qur’an dalam Surah At-Taubah ayat 18 menyebut orang-orang yang memakmurkan masjid Allah sebagai mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut selain kepada Allah. Pesan ini menempatkan kemakmuran masjid dalam hubungan erat dengan keimanan dan amal nyata.
Kemandirian Ekonomi Perlu Dipersiapkan
Pembentukan generasi muda juga perlu menyentuh aspek ekonomi. Pemuda membutuhkan keterampilan yang dapat digunakan untuk memperoleh pekerjaan, membangun usaha, dan mengelola penghasilan secara bertanggung jawab.
Masjid dan komunitas di sekitarnya dapat mendukung upaya tersebut melalui pelatihan, pendampingan usaha, pengembangan keterampilan digital, atau kegiatan produktif sesuai kebutuhan masyarakat. Pelaksanaannya tentu perlu disesuaikan dengan kemampuan pengelola dan kondisi lingkungan setempat.
Kemandirian ekonomi bukan sekadar persoalan memperoleh penghasilan. Kemampuan memenuhi kebutuhan secara layak juga dapat memperkuat kepercayaan diri, mengurangi ketergantungan, dan membuka ruang bagi pemuda untuk berkontribusi lebih besar kepada keluarga maupun masyarakat.
- Penulis: Muhammad Yusuf
- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar