Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » COKTAS di Ujong Kubu: Jangan Hapus Nama Kami

COKTAS di Ujong Kubu: Jangan Hapus Nama Kami

  • account_circle Lebah Senja
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cerpen oleh: Lebah Senja

Siribee.com » Hujan turun sejak sore. Langit gelap membuat suasana kantor KIP kota terasa lebih lengang dari biasanya. Satu per satu pegawai berpamitan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan. Tinggal Atika yang masih menatap layar komputer.

Malam itu adalah batas akhir rekapitulasi hasil Coklit Terbatas (COKTAS). Puluhan berkas sudah selesai diperiksa. Tinggal satu folder yang belum ditutup.

Gampong Ujong Kubu.
Atika menghela napas. Gampong itu selalu menyisakan tanda tanya.
Setiap tahun masuk dalam sampel COKTAS.
Setiap tahun pula petugas lapangan menuliskan catatan yang sama.
“Rumah ditemukan, tetapi penghuni tidak dapat diverifikasi.”
Anehnya, laporan itu berasal dari petugas yang berbeda-beda, namun kalimatnya tidak pernah berubah.
Seolah mereka menulis dari pengalaman yang sama.
Jam di dinding menunjukkan pukul 23.52.
Ketika Atika membuka kembali daftar pemilih Gampong Ujong Kubu, layar komputer tiba-tiba berkedip.
Nama-nama yang sebelumnya berstatus TMS perlahan berubah menjadi Belum Diverifikasi.
Kursor bergerak sendiri.
Tidak ada yang menyentuh tetikus.
Lalu muncul sebuah pesan.
“Jangan hapus nama kami.”
Atika menelan ludah.
Ia mencoba menutup aplikasi.
Namun pesan itu muncul lagi.
Lebih panjang.

“Kami hanya ingin dipastikan hak pilih kami.”
Bulu kuduknya berdiri.
Di luar, angin malam bertiup pelan. Pintu kantor yang tadi tertutup rapat mengeluarkan suara berderit.
Creeeek…
Langkah kaki terdengar dari lorong.
Pelan.
Teratur.
Semakin dekat.
Tap… tap… tap…

Ketukan pun terdengar.
Tok…
Tok…
Tok…
“Permisi…”
Suara itu lirih.
“Sudahkah nama kami dicoklit?”
Atika tidak berani menjawab.
Ia mengintip melalui kaca pintu.
Lorong kosong.
Tidak ada siapa-siapa.

Tetapi di lantai, tepat di depan pintu, tergeletak setumpuk formulir COKTAS yang basah, seolah baru saja dibawa seseorang yang kehujanan.

Tangannya gemetar saat mengambil formulir itu.
Di halaman pertama hanya ada satu kalimat.
“Hak pilih adalah amanah. Pastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal.”
Saat Atika mengangkat kepalanya, layar komputer kembali menyala.
Kini bukan daftar pemilih yang terlihat.
Melainkan puluhan nama yang muncul satu per satu.

Setiap nama diikuti foto rumah sederhana, sebagian sudah tua, sebagian kosong, sebagian lagi hanya menyisakan pondasi.

Di bagian bawah layar tertulis:

“Data boleh berubah. Warga boleh berpindah. Tetapi setiap hak pilih harus dipastikan berdasarkan kondisi sebenarnya.”

Tiba-tiba seluruh layar berubah hitam.
Dalam pantulannya, Atika melihat sosok-sosok berdiri di belakangnya.

Laki-laki.
Perempuan.
Orang tua.
Anak muda.
Mereka tidak menyeramkan.
Wajah mereka tenang.
Tatapan mereka hanya menyimpan satu harapan.
Bersamaan, mereka berbisik pelan.
“Jangan hapus nama kami… sebelum kalian benar-benar memastikan.”
Seketika listrik padam.
Ruangan gelap gulita.
Beberapa detik kemudian, lampu kembali menyala.
Semuanya normal.
Komputer kembali menampilkan aplikasi COKTAS seperti semula.
Tidak ada pesan.
Tidak ada nama yang berubah sendiri.
Tidak ada sosok di belakangnya.
Keesokan paginya, Atika menceritakan kejadian itu kepada koordinator.
Pria itu hanya tersenyum.

“Lupakan soal yang semalam,” katanya sambil menepuk bahu Atika. “Tapi satu hal, jangan pernah lupakan maknanya.”

“Setiap kegiatan COKTAS bukan sekadar memperbarui data.”

“Ia adalah ikhtiar untuk memastikan tidak ada warga yang kehilangan hak pilihnya karena kekeliruan data.”

Sejak hari itu, setiap kali Atika turun mendampingi COKTAS, ia selalu mengingat bisikan yang didengarnya pada malam itu.

“Jangan hapus nama kami… sebelum kalian benar-benar memastikan.”
» CATATAN: Cerpen ini hadir sebagai karya fiksi dari ruang imajinasi penulis. Tokoh, nama, tempat, peristiwa dan kisah yang terjalin di dalamnya merupakan rekaan. Kemiripan dengan kenyataan atau pihak tertentu tidak dimaksudkan sebagai penggambaran nyata.
Tags
  • Penulis: Lebah Senja

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wastra Nusantara: Kain Tradisional yang Menyimpan Cerita dan Identitas Bangsa

    Wastra Nusantara: Kain Tradisional yang Menyimpan Cerita dan Identitas Bangsa

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Indonesia adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya, dan salah satu kekayaan itu terjalin dalam wastra nusantara. Wastra, dari bahasa Sanskerta, adalah sebutan bagi kain atau busana yang membalut raga sekaligus memelihara budaya. Namun, di balik selembar kain tradisional ini, tersimpan nilai sejarah, filosofi, dan keterampilan tinggi yang diwariskan lintas generasi.   Makna Wastra dalam […]

  • Kursi Gibran Digoyang Gugatan, Prabowo Diminta Ajukan 2 Nama ke MPR

    Kursi Gibran Digoyang Gugatan, Prabowo Diminta Ajukan 2 Nama ke MPR

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Jakarta – Kursi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi objek sengketa hukum di Mahkamah Konstitusi (MK). Sejumlah pihak mengajukan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden dan Wakil Presiden 2024 dengan mempersoalkan pemenuhan syarat pendidikan Gibran saat mengikuti Pilpres 2024. Perkara tersebut terdaftar dengan Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026. Sidang pemeriksaan pendahuluan telah digelar MK pada […]

  • Plat BL Aceh Tidak Boleh Masuk Medan? Simak Fakta & Aturan Hukum Resminya

    Plat BL Aceh Tidak Boleh Masuk Medan? Simak Fakta & Aturan Hukum Resminya

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Medan – Rombongan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sempat menghentikan sebuah truk dengan plat BL yang melintas di wilayah Provinsi tersebut. Truk tersebut diketahui menggunakan nomor polisi asal Aceh dan kemudian diminta menyesuaikan dengan kode BK, plat kendaraan resmi untuk wilayah Sumut. Peristiwa ini terekam dalam sebuah video singkat yang menjadi viral di media sosial. […]

  • Saat Dunia Bersorak di Piala Dunia, Gaza Bertahan Hidup di Dalam Stadion

    Saat Dunia Bersorak di Piala Dunia, Gaza Bertahan Hidup di Dalam Stadion

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di tengah gegap gempita Piala Dunia, dunia kembali menyaksikan bagaimana olahraga mampu menyatukan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang. Stadion-stadion megah dipenuhi ribuan penonton, jutaan orang menyaksikan pertandingan melalui layar kaca, sementara negara-negara peserta berlomba menunjukkan kemampuan terbaik mereka di panggung sepak bola terbesar di dunia. Piala Dunia tidak hanya menjadi ajang olahraga, […]

  • Blang Padang: Antara Sejarah Wakaf, Militer dan Kepentingan Publik

    Blang Padang: Antara Sejarah Wakaf, Militer dan Kepentingan Publik

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Oleh: Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd. Dosen Fisip Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Siribee.com » Blang Padang merupakan salah satu ruang terbuka paling dikenal di Banda Aceh. Letaknya yang berada di pusat kota membuat kawasan ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi. Setiap hari, masyarakat datang untuk berolahraga, berjalan santai, berkumpul, mengikuti […]

  • Aceh, Negeri yang Terlalu Sibuk dengan Citra

    Aceh, Negeri yang Terlalu Sibuk dengan Citra

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Beberapa hari terakhir, Aceh kembali gelap. Listrik padam berjam-jam. Aktivitas masyarakat lumpuh. Warung kopi kehilangan pelanggan. Jaringan internet terganggu. Rumah-rumah sakit harus bersiap dengan cadangan daya. Sebagian warga bahkan mengeluhkan perangkat elektronik mereka rusak akibat listrik hidup-mati berulang. Namun di tengah keresahan masyarakat itu, ada satu hal yang terasa ironis: ruang publik kita justru masih […]

expand_less