COKTAS di Ujong Kubu: Jangan Hapus Nama Kami
- account_circle Lebah Senja
- calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
- schedule 3 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Cerpen oleh: Lebah Senja
Siribee.com » Hujan turun sejak sore. Langit gelap membuat suasana kantor KIP kota terasa lebih lengang dari biasanya. Satu per satu pegawai berpamitan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan. Tinggal Atika yang masih menatap layar komputer.
Malam itu adalah batas akhir rekapitulasi hasil Coklit Terbatas (COKTAS). Puluhan berkas sudah selesai diperiksa. Tinggal satu folder yang belum ditutup.
Atika menghela napas. Gampong itu selalu menyisakan tanda tanya.
Setiap tahun masuk dalam sampel COKTAS.
Setiap tahun pula petugas lapangan menuliskan catatan yang sama.
“Rumah ditemukan, tetapi penghuni tidak dapat diverifikasi.”
Anehnya, laporan itu berasal dari petugas yang berbeda-beda, namun kalimatnya tidak pernah berubah.
Seolah mereka menulis dari pengalaman yang sama.
Jam di dinding menunjukkan pukul 23.52.
Ketika Atika membuka kembali daftar pemilih Gampong Ujong Kubu, layar komputer tiba-tiba berkedip.
Kursor bergerak sendiri.
Tidak ada yang menyentuh tetikus.
Lalu muncul sebuah pesan.
Atika menelan ludah.
Ia mencoba menutup aplikasi.
Namun pesan itu muncul lagi.
“Kami hanya ingin dipastikan hak pilih kami.”
Bulu kuduknya berdiri.
Di luar, angin malam bertiup pelan. Pintu kantor yang tadi tertutup rapat mengeluarkan suara berderit.
Creeeek…
Langkah kaki terdengar dari lorong.
Pelan.
Teratur.
Semakin dekat.
Tap… tap… tap…
Tok…
Ia mengintip melalui kaca pintu.
Lorong kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tetapi di lantai, tepat di depan pintu, tergeletak setumpuk formulir COKTAS yang basah, seolah baru saja dibawa seseorang yang kehujanan.
Di halaman pertama hanya ada satu kalimat.
“Hak pilih adalah amanah. Pastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal.”
Saat Atika mengangkat kepalanya, layar komputer kembali menyala.
Kini bukan daftar pemilih yang terlihat.
Melainkan puluhan nama yang muncul satu per satu.
Setiap nama diikuti foto rumah sederhana, sebagian sudah tua, sebagian kosong, sebagian lagi hanya menyisakan pondasi.
Di bagian bawah layar tertulis:
“Data boleh berubah. Warga boleh berpindah. Tetapi setiap hak pilih harus dipastikan berdasarkan kondisi sebenarnya.”
Tiba-tiba seluruh layar berubah hitam.
Dalam pantulannya, Atika melihat sosok-sosok berdiri di belakangnya.
Perempuan.
Orang tua.
Anak muda.
Mereka tidak menyeramkan.
Tidak ada sosok di belakangnya.
Keesokan paginya, Atika menceritakan kejadian itu kepada koordinator.
Pria itu hanya tersenyum.
“Lupakan soal yang semalam,” katanya sambil menepuk bahu Atika. “Tapi satu hal, jangan pernah lupakan maknanya.”
“Setiap kegiatan COKTAS bukan sekadar memperbarui data.”
“Ia adalah ikhtiar untuk memastikan tidak ada warga yang kehilangan hak pilihnya karena kekeliruan data.”
Sejak hari itu, setiap kali Atika turun mendampingi COKTAS, ia selalu mengingat bisikan yang didengarnya pada malam itu.
- Penulis: Lebah Senja

Saat ini belum ada komentar