Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Langit Tak Pernah Berdusta

Langit Tak Pernah Berdusta

  • account_circle Lebah Senja
  • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cerpen oleh: Lebah Senja 

Siribee.com » Malam merambat perlahan di Jakarta. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantulkan cahaya ke langit yang mulai gelap.

Di sebuah kafe kecil di sudut kota, tak jauh dari jalan yang setiap hari dipenuhi kemacetan dan janji-janji politik, seorang pria tua duduk sendirian memandangi secangkir kopi yang hampir dingin.

Namanya Rahman.
Usianya enam puluh tahun.
Dahulu ia seorang jurnalis.
Kini ia hanya pelanggan tetap yang lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Kafe itu unik. Setiap malam dipenuhi orang-orang dengan pandangan berbeda. Ada mahasiswa yang berdebat soal demokrasi, aktivis yang mengkritik pemerintah, politisi muda yang gemar berbicara tentang perubahan, dan pekerja kantoran yang hanya ingin melepas lelah setelah seharian bekerja.
Malam itu televisi di sudut ruangan menyiarkan berita politik.
Seorang pejabat sedang berpidato.
“Kita harus menjaga demokrasi dengan jujur dan adil,” katanya.
Sebagian pengunjung bertepuk tangan.
Sebagian mencibir.
Sebagian lagi sibuk dengan telepon genggamnya.
Rahman hanya tersenyum tipis.
Ia sudah terlalu lama hidup untuk percaya bahwa setiap kata yang diucapkan di depan kamera adalah kebenaran.
Di meja sebelah, perdebatan mulai memanas.
“Demokrasi kita semakin matang,” kata seorang pemuda.
“Tidak,” sahut yang lain. “Demokrasi kita hanya dipenuhi pencitraan.”
“Setidaknya rakyat masih bisa memilih.”
“Memilih apa? Jika yang disajikan hanya pilihan yang sama?”
Suara mereka semakin keras.
Masing-masing merasa benar.
Masing-masing memiliki data.
Masing-masing memiliki argumen.
Namun Rahman melihat sesuatu yang berbeda.
Ia melihat bagaimana manusia sering lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada mencari kebenaran.
Seorang pelayan muda mendekatinya.
“Bapak tidak ikut berpendapat?”
Rahman tertawa kecil.
“Dulu saya juga seperti mereka.”
“Lalu sekarang?”
“Sekarang saya lebih suka mendengarkan.”
“Kenapa?”
Rahman menatap keluar jendela.
Di luar, hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta.
“Karena saya sadar, suara paling keras belum tentu paling benar.”
Pelayan itu terdiam.
Rahman melanjutkan.

“Demokrasi memberi hak kepada semua orang untuk berbicara. Tapi demokrasi tidak otomatis membuat semua ucapan menjadi benar.”

Puluhan tahun menjadi jurnalis membuat Rahman menyaksikan banyak hal.
Ia pernah melihat orang jujur dikalahkan oleh fitnah.
Ia pernah melihat kebohongan diulang begitu sering hingga dianggap fakta.
Ia pernah melihat media dibeli.
Ia pernah melihat suara rakyat digunakan sebagai tangga kekuasaan.

Namun ia juga pernah melihat kebenaran yang akhirnya muncul meskipun bertahun-tahun disembunyikan.
Kebenaran selalu menemukan jalannya.
Seperti air yang merembes melalui celah terkecil.
Atau seperti cahaya yang menembus tirai paling tebal.
Malam semakin larut.
Perdebatan di kafe masih berlangsung.
Televisi masih menyiarkan berita.
Media sosial masih dipenuhi saling tuduh.
Semua orang berbicara.
Semua orang ingin didengar.
Namun sedikit yang benar-benar mau mendengar.
Rahman berdiri dari kursinya.
Ia berjalan keluar kafe.
Hujan telah reda.
Langit Jakarta mulai memperlihatkan beberapa bintang yang malu-malu muncul di antara awan.
Ia menengadah.
Lalu teringat kalimat yang pernah diajarkan ayahnya puluhan tahun lalu.
“Jika manusia mulai bingung membedakan mana suara dan mana kebenaran, tengadahlah ke langit. Karena langit tidak pernah berdusta.”
Rahman tersenyum.
Demokrasi memang memberi ruang bagi setiap orang untuk berbicara.
Tetapi demokrasi yang sehat tidak dibangun oleh suara yang paling keras.
Ia dibangun oleh keberanian untuk jujur.
Oleh kesediaan menerima fakta.
Oleh kerendahan hati untuk mengakui kesalahan.
Dan oleh keyakinan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah tepuk tangan.
Di bawah langit Jakarta yang mulai cerah, Rahman kembali melangkah.
Di belakangnya, kafe kecil itu masih dipenuhi perdebatan.
Di atasnya, langit tetap diam.
Namun diamnya menyimpan satu pesan yang tidak pernah berubah,
Manusia boleh berbeda pilihan.
Manusia boleh berbeda pendapat.
Tetapi kebenaran tidak pernah mengikuti suara terbanyak.
Karena langit tak pernah berdusta.

» CATATAN: Cerpen ini hadir sebagai karya fiksi dari ruang imajinasi penulis. Tokoh, nama, tempat, peristiwa dan kisah yang terjalin di dalamnya merupakan rekaan. Kemiripan dengan kenyataan atau pihak tertentu tidak dimaksudkan sebagai penggambaran nyata.

Tags
  • Penulis: Lebah Senja

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPU Kaji E-Voting Pemilu 2029, Bagaimana Kesiapan Infrastrukturnya?

    KPU Kaji E-Voting Pemilu 2029, Bagaimana Kesiapan Infrastrukturnya?

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Jakkarta – Gagasan menerapkan electronic voting atau e-voting mulai mendapat tempat dalam pembicaraan mengenai masa depan Pemilu Indonesia. Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahkan telah mengkaji roadmap penerapan e-voting, terutama untuk pemilih Indonesia yang berada di luar negeri. Langkah ini menarik karena e-voting bukan sekadar persoalan menyediakan aplikasi untuk mencoblos secara digital. Di baliknya […]

  • Kisah Tiga Ulama Sufi yang Dianggap Gila Karena Cintanya Terlalu Dalam kepada Tuhan

    Kisah Tiga Ulama Sufi yang Dianggap Gila Karena Cintanya Terlalu Dalam kepada Tuhan

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di setiap zaman, selalu ada jiwa yang melampaui batas nalar manusia biasa. Mereka berbicara tentang Tuhan dengan bahasa cinta, bukan logika. Bagi sebagian orang, mereka dianggap sesat, aneh, bahkan gila, padahal mungkin merekalah yang paling sadar akan kehadiran-Nya. Orang menyebutku gila ketika aku berkata: Aku adalah Tuhan! Namun di balik kalimat yang terdengar melampaui batas […]

  • Manfaat Labu Kuning untuk Kesehatan: Sumber Nutrisi Alami yang Kaya Khasiat

    Manfaat Labu Kuning untuk Kesehatan: Sumber Nutrisi Alami yang Kaya Khasiat

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Labu kuning merupakan salah satu bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di Indonesia dan telah lama dimanfaatkan dalam berbagai hidangan tradisional, mulai dari kolak, sup, hingga kue khas daerah. Selain rasanya yang manis alami dan teksturnya yang lembut, labu kuning juga dikenal sebagai sumber nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Dalam pola makan masyarakat, labu […]

  • Jimly Asshiddiqie dan Jalan Panjang Menjaga Etika Pemilu Indonesia

    Jimly Asshiddiqie dan Jalan Panjang Menjaga Etika Pemilu Indonesia

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Siribee.com » Ada satu bab penting dalam sejarah reformasi pemilu Indonesia yang tidak selalu terlihat dari hiruk-pikuk tahapan pemungutan suara. Bab itu berkaitan dengan pertanyaan sederhana, tetapi mendasar, siapa yang menjaga perilaku para penyelenggara pemilu ketika kewenangan mereka mulai berhadapan dengan kepentingan politik? Pertanyaan tersebut kemudian melahirkan perkembangan penting dalam sistem kepemiluan Indonesia, yakni pelembagaan […]

  • 80 Tahun Merdeka, Bocah Gowa Masih Harus Mengais Sisa Snack Pejabat

    80 Tahun Merdeka, Bocah Gowa Masih Harus Mengais Sisa Snack Pejabat

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Gelaran upacara HUT ke-80 RI di Lapangan Sultan Hasanuddin, Gowa, Sulawesi Selatan, idealnya menghadirkan suasana hangat, penuh energi, dan kebahagiaan bagi masyarakat. Namun, dibalik euforia kemerdekaan, publik dibuat tercengang oleh video yang beredar luas. Dua anak kecil, Syamsul (7) dan Muhammad Aidil (7), tampak mengumpulkan kotak snack yang berserakan setelah ditinggalkan pejabat. Adegan sederhana itu […]

  • Pemilu Singapura: Ketika Stabilitas Politik Menjadi Prioritas Utama

    Pemilu Singapura: Ketika Stabilitas Politik Menjadi Prioritas Utama

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di banyak negara demokrasi, pergantian pemerintahan sering kali diwarnai tarik-menarik kepentingan politik, koalisi yang rapuh, hingga kebijakan yang berubah-ubah. Namun, Singapura menunjukkan gambaran yang berbeda. Selama puluhan tahun, negara kota tersebut mampu mempertahankan stabilitas politik yang kuat dan konsisten, bahkan ketika dunia menghadapi berbagai gejolak ekonomi maupun politik. Salah satu kunci yang sering […]

expand_less