Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Story » Sejarah Panjang Bendera Merah Putih, Dari Kerajaan Majapahit Hingga Proklamasi

Sejarah Panjang Bendera Merah Putih, Dari Kerajaan Majapahit Hingga Proklamasi

  • account_circle Yusri Razali
  • calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
  • schedule 7 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Siribee.com » Bendera Merah Putih memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada usia Republik Indonesia. Jejak warna merah dan putih telah dikenal dalam kebudayaan Nusantara sejak masa kerajaan, termasuk pada era Majapahit. Namun, perjalanan kedua warna tersebut hingga menjadi bendera negara Indonesia tidak berlangsung dalam satu garis lurus.

Setiap 17 Agustus, Merah Putih berkibar hampir di seluruh penjuru Indonesia. Di depan rumah, sekolah, kantor pemerintahan, hingga ruang publik, dua warna itu menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan.

Bagi Indonesia, Merah Putih bukan sekadar kain berwarna merah dan putih. Bendera tersebut merupakan simbol identitas, persatuan, kedaulatan, sekaligus pengingat terhadap perjuangan panjang menuju kemerdekaan.

Menariknya, akar sejarah warna merah dan putih sudah ditemukan jauh sebelum Republik Indonesia berdiri pada 1945.

Jejak Merah Putih Sejak Masa Kerajaan

Pembahasan mengenai sejarah Bendera Merah Putih hampir selalu membawa kita ke Majapahit.

Kerajaan yang berpusat di Jawa Timur tersebut berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-15. Dalam berbagai sumber sejarah, warna merah dan putih disebut memiliki tempat dalam tradisi dan simbol kebudayaan pada masa itu.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.

Bendera Merah Putih yang digunakan Indonesia sekarang tidak tepat jika disebut sebagai bendera Majapahit yang kemudian diwariskan begitu saja kepada Republik Indonesia.

Yang lebih tepat adalah adanya jejak penggunaan warna merah dan putih dalam tradisi Nusantara, yang kemudian memperoleh makna baru ketika memasuki era kebangkitan nasional.

Perbedaan ini penting agar sejarah tidak disederhanakan menjadi cerita bahwa bendera Indonesia sudah berbentuk sama sejak zaman Majapahit.

Pada masa kerajaan, panji dan umbul-umbul memiliki fungsi yang berbeda dengan bendera negara modern. Simbol kerajaan lebih banyak berkaitan dengan identitas kekuasaan, pasukan, wilayah, atau upacara tertentu.

Sementara itu, konsep bendera nasional seperti yang dikenal sekarang baru berkembang bersamaan dengan munculnya negara-bangsa dan nasionalisme modern.

Merah Putih dalam Tradisi Nusantara

Penggunaan warna merah dan putih juga tidak hanya berkaitan dengan Majapahit.

Dalam sejumlah tradisi masyarakat Nusantara, kedua warna tersebut memiliki kedekatan simbolik dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kebudayaan Jawa, misalnya, dikenal istilah gula-kelapa atau merah-putih yang memiliki makna simbolis.

Warna merah juga kerap dikaitkan dengan keberanian, sedangkan putih dikaitkan dengan kesucian. Pemaknaan tersebut kemudian berkembang dan mendapatkan tempat dalam konstruksi simbol kebangsaan Indonesia.

Karena itu, sejarah Merah Putih sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai sebuah kerajaan. Ia juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat Nusantara memberikan makna terhadap warna dalam kehidupan sosial dan budaya.

Di sinilah perjalanan Merah Putih menjadi menarik.

Dua warna yang sebelumnya hadir dalam berbagai konteks kebudayaan kemudian mendapatkan makna politik baru pada abad ke-20.

Ketika Merah Putih Menjadi Simbol Pergerakan

Memasuki awal abad ke-20, muncul perubahan besar dalam kehidupan politik masyarakat Hindia Belanda.

Gagasan mengenai persatuan dan kemerdekaan mulai berkembang. Organisasi-organisasi pergerakan bermunculan dan identitas “Indonesia” perlahan menggantikan batas-batas identitas berdasarkan daerah atau kerajaan.

Pada tahap inilah warna merah dan putih mulai digunakan dalam konteks perjuangan kebangsaan.

Perhimpunan Indonesia di Belanda, misalnya, menggunakan merah-putih dalam simbol organisasinya. Penggunaan warna tersebut menunjukkan bahwa merah dan putih mulai mendapatkan arti baru: bukan lagi sekadar bagian dari tradisi kerajaan, tetapi menjadi representasi gagasan tentang bangsa Indonesia.

Perubahan tersebut merupakan salah satu titik penting dalam sejarah Bendera Merah Putih. Sebuah simbol budaya mulai berubah menjadi simbol politik.

Sumpah Pemuda Memperkuat Makna Kebangsaan

Perjalanan Merah Putih semakin kuat seiring dengan berkembangnya gerakan nasional.

Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak penting dalam pembentukan identitas Indonesia. Para pemuda dari berbagai daerah menyatakan ikrar mengenai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Sumpah Pemuda memang tidak secara khusus menetapkan Merah Putih sebagai bendera negara. Namun, momentum tersebut memperkuat gagasan mengenai identitas bersama yang melampaui batas daerah.

Dalam konteks inilah Merah Putih semakin dekat dengan gagasan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki cita-cita kemerdekaan.

Jadi, sejarah bendera Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah pergerakan nasional.

Bendera tersebut tidak muncul secara tiba-tiba pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, terdapat proses panjang ketika masyarakat mulai mencari simbol yang mampu mewakili identitas bangsa yang sedang tumbuh.

Jepang dan Kesempatan Menjelang Kemerdekaan

Pendudukan Jepang sejak 1942 membuat penggunaan berbagai simbol politik mengalami pembatasan. Namun, situasi berubah ketika Jepang mulai kehilangan posisi dalam Perang Dunia II.

Pada 1944, Jepang memberikan janji mengenai kemerdekaan Indonesia. Ruang politik bagi tokoh-tokoh pergerakan pun semakin terbuka.

Dalam proses menuju kemerdekaan, pembahasan mengenai simbol negara ikut mendapatkan perhatian.

Merah dan putih dipilih sebagai warna bendera kebangsaan. Makna yang kemudian dikenal luas adalah merah sebagai keberanian dan putih sebagai kesucian.

Pada periode inilah Fatmawati, istri Soekarno, menjahit bendera yang kemudian dikenal sebagai Bendera Pusaka.

Bendera tersebut bukan sekadar perlengkapan upacara. Ia menjadi bagian dari rangkaian sejarah yang menghubungkan persiapan kemerdekaan dengan peristiwa Proklamasi.

Bendera Merah Putih Berkibar Setelah Proklamasi

Puncak perjalanan sejarah Merah Putih terjadi pada 17 Agustus 1945.

Pada pagi hari di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Setelah pembacaan proklamasi, Merah Putih dikibarkan. Bendera yang dijahit Fatmawati tersebut kemudian dikenang sebagai Bendera Pusaka.

Peristiwa ini memiliki arti penting dalam sejarah Indonesia.

Sebelum 17 Agustus 1945, merah-putih telah digunakan sebagai simbol perjuangan dan kebangsaan. Setelah proklamasi, keduanya memperoleh kedudukan baru sebagai simbol negara yang merdeka.

Dengan demikian, Proklamasi bukanlah awal dari sejarah warna merah-putih, tetapi menjadi titik penting yang mengubah kedudukannya menjadi simbol negara Indonesia.

Inilah salah satu nilai penting yang sering terlewat ketika sejarah Merah Putih hanya diceritakan dalam hubungan dengan Majapahit.

Kedudukan Merah Putih dalam Konstitusi

Setelah Indonesia merdeka, kedudukan Merah Putih memperoleh dasar konstitusional.

Pasal 35 UUD 1945 menyatakan secara jelas, “Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.” Ketentuan tersebut menempatkan Merah Putih sebagai bagian dari identitas resmi negara.

Pengaturannya kemudian diperjelas melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Undang-undang tersebut menempatkan bendera sebagai salah satu sarana pemersatu, identitas, serta simbol kedaulatan dan kehormatan negara.

Artinya, penghormatan terhadap Merah Putih bukan hanya persoalan tradisi. Bendera negara memiliki kedudukan hukum yang jelas dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Dari Bendera Pusaka ke Simbol Negara

Bendera yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945 kemudian dikenal sebagai Bendera Pusaka.

Karena usia dan kondisi kain yang semakin rentan, penggunaannya dalam upacara kenegaraan akhirnya tidak dilakukan secara rutin. Namun, nilai sejarahnya tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan perjuangan kemerdekaan.

Sosok Fatmawati juga menempati tempat penting dalam kisah ini. Ia dikenang sebagai tokoh yang menjahit bendera yang dikibarkan setelah Proklamasi. Sejumlah kajian sejarah juga mencatat perannya sebagai bagian penting dari perjalanan simbol kemerdekaan tersebut.

Dengan demikian, sejarah Merah Putih tidak hanya berisi nama kerajaan, tokoh politik, dan peristiwa besar. Di dalamnya terdapat pula kontribusi perempuan dan masyarakat yang bekerja di balik layar perjuangan kemerdekaan.

Sejarah Bendera Merah Putih memperlihatkan bahwa simbol nasional dapat mengalami perubahan makna seiring perubahan zaman.

Pada masa kerajaan, merah dan putih hadir dalam tradisi serta simbol kebudayaan. Pada masa pergerakan nasional, keduanya berkembang menjadi lambang perjuangan. Setelah Proklamasi, Merah Putih menjadi simbol negara dan kemudian memperoleh penguatan melalui konstitusi serta peraturan perundang-undangan.

Karena itu, hubungan antara Majapahit dan Bendera Merah Putih sebaiknya tidak dipahami secara sederhana.

Majapahit memang menjadi salah satu bagian penting dalam jejak sejarah warna merah-putih. Tetapi Bendera Merah Putih sebagai identitas negara Indonesia merupakan hasil perjalanan yang lebih panjang, melibatkan perkembangan budaya, kebangkitan nasional, pergerakan pemuda, perjuangan kemerdekaan, dan pembentukan negara modern.

Pada akhirnya, makna Merah Putih bukan hanya terletak pada warna kainnya.

Merah Putih adalah simbol perjalanan Indonesia: dari masyarakat yang hidup dalam beragam kerajaan dan tradisi, menuju kesadaran sebagai satu bangsa, lalu membentuk sebuah negara merdeka.

Itulah sebabnya ketika Merah Putih berkibar setiap 17 Agustus, yang dikenang bukan hanya Proklamasi 1945. Di baliknya terdapat sejarah panjang tentang bagaimana sebuah bangsa menemukan simbol bersama untuk menyatakan keberadaan dan kedaulatannya.

  • Penulis: Yusri Razali
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hasyim Asy’ari: Akurasi dan Transparansi Kunci Integritas Pemilu

    Hasyim Asy’ari: Akurasi dan Transparansi Kunci Integritas Pemilu

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Siribee.com » Banda Aceh – Integritas pemilu tidak semata-mata ditentukan oleh aturan, tetapi oleh sejauh mana setiap tahapan dapat dijalankan secara akurat, transparan, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari data pemilih, proses pemungutan, hingga penghitungan suara, seluruh mata rantai tersebut menentukan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu. Hal itu disampaikan Hasyim Asy’ari, mantan Ketua Komisi Pemilihan […]

  • Banyak Negara Maju dan Demokrasi Besar Tetap Memilih Kertas

    Banyak Negara Maju dan Demokrasi Besar Tetap Memilih Kertas

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Anggapan bahwa negara maju telah sepenuhnya beralih ke pemilu elektronik tidak sepenuhnya tepat. Faktanya, banyak negara dengan sistem demokrasi mapan masih mempertahankan surat suara kertas sebagai instrumen utama pemungutan suara. Di Jerman, penggunaan evoting dihentikan setelah Mahkamah Konstitusi Federal pada 2009 menyatakan bahwa proses pemilu harus dapat dipahami dan diawasi secara langsung oleh warga negara […]

  • Pernikahan di Aceh, Perpaduan Sakral Antara Cinta dan Tradisi

    Pernikahan di Aceh, Perpaduan Sakral Antara Cinta dan Tradisi

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Pernikahan di Tanah Rencong bukan hanya janji suci antara mempelai, tetapi juga perayaan luhur yang menggabungkan nilai keislaman, adat, dan pesona budaya lokal. 1. Prosesi Pra-Pernikahan Sebelum hari akad, biasanya keluarga kedua mempelai menggelar beberapa rangkaian acara, seperti: Peukong Haba ➔  Pertemuan pendahuluan yang mempertemukan keluarga kedua belah pihak untuk saling berkenalan dan membicarakan rencana lamaran secara […]

  • 20 Ribu Lowongan Magang Siap Kerja 2025 Dibuka 7 Oktober, Cek Syarat dan Cara Daftar di Sini!

    20 Ribu Lowongan Magang Siap Kerja 2025 Dibuka 7 Oktober, Cek Syarat dan Cara Daftar di Sini!

    • calendar_month Minggu, 5 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Jakarta – Kabar gembira, Pemerintah akan membuka pendaftaran Program Magang Nasional Siap Kerja 2025 pada 7 hingga 13 Oktober mendatang. Program ini diperuntukkan bagi lulusan Diploma 3 (D3), Diploma 4 (D4), dan Sarjana (S1) yang ingin memperoleh pengalaman kerja di berbagai perusahaan besar, baik BUMN maupun sektor swasta. Inisiatif ini menjadi bagian dari […]

  • Alimuddin Armia: Tumbuh dari Kesederhanaan, Mengabdi untuk Ummat

    Alimuddin Armia: Tumbuh dari Kesederhanaan, Mengabdi untuk Ummat

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di sebuah kampung sederhana Cot Tunong, Kabupaten Pidie, Aceh, Alimuddin Armia tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan nilai agama dan tradisi pendidikan dayah. Dari kampung itulah perjalanan panjangnya dimulai, perjalanan seorang anak muda yang ditempa oleh kesederhanaan, pendidikan, kerja keras dan dunia aktivisme Islam. Lahir pada 8 Juli 1989 dari pasangan Armia bin Itam dan […]

  • Kalau Banyak Orang Tidak Memilih, Siapa yang Menentukan?

    Kalau Banyak Orang Tidak Memilih, Siapa yang Menentukan?

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Bayangkan sebuah kelas berisi 100 orang. Guru meminta mereka menentukan ketua kelas. Namun, hanya 40 orang yang ikut memilih. Dari 40 orang itu, seseorang memperoleh 21 suara dan akhirnya menjadi ketua. Secara aturan, prosesnya sah. Tetapi ada pertanyaan yang menarik, bagaimana dengan 60 orang yang tidak ikut menentukan? Gambaran sederhana itu sebenarnya membantu […]

expand_less