Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Story » Api yang Membakar Masjid Raya: Kisah Kelam Penjajahan Belanda

Api yang Membakar Masjid Raya: Kisah Kelam Penjajahan Belanda

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 19 Agt 2025
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Siribee.com » Di pusat Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, terdapat Masjid Raya Baiturrahman, atau yang biasa disebut Meuseujid Raya Baiturrahman oleh masyarakat Aceh, sebuah masjid bersejarah yang memiliki nilai religius dan budaya tinggi.

Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1879 dan sejak saat itu menjadi lambang keagamaan sekaligus identitas budaya bagi masyarakat Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman, Simbol Kejayaan Islam di Aceh

Masjid ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga menjadi simbol semangat perjuangan, kekuatan, dan nasionalisme masyarakat Aceh yang kuat dan tak tergoyahkan.

Sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Aceh, Masjid Raya Baiturrahman telah menjadi ikon penting sejak zaman Kesultanan Aceh hingga masa modern sekarang.

Sejak abad ke-17, masjid ini menjadi pusat ilmu, dakwah, sekaligus simbol kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam. Dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, masjid ini menjadi ikon kebanggaan rakyat Aceh yang religius dan berbudaya.

Keistimewaan masjid ini juga terlihat dari kemampuannya bertahan menghadapi bencana dahsyat seperti gempa bumi dan tsunami yang melanda pada tahun 2004, menjadikannya simbol ketangguhan dan harapan bagi masyarakat setempat.

Namun, sejarah mencatat masa kelam ketika Belanda datang menyerang Aceh. Demi melumpuhkan semangat rakyat, mereka melakukan tindakan yang meninggalkan luka mendalam: membakar Masjid Raya Baiturrahman.

Tahun 1873: Belanda Membakar Masjid Raya Baiturrahman

Pada 1873, Belanda melancarkan agresi militer pertama ke Aceh. Mereka menyerbu Banda Aceh dengan kekuatan penuh. Di tengah kobaran serangan, Belanda membakar Masjid Raya Baiturrahman yang dulu berdiri sederhana dengan atap rumbia yang memikat.

Tindakan ini bukan hanya dianggap sebagai serangan fisik, tetapi juga penghinaan terhadap keyakinan dan martabat masyarakat Aceh. Masjid yang menjadi pusat kegiatan spiritual dan sosial hancur dilalap api, menyisakan amarah yang membara di hati rakyat.

Amarah Rakyat Aceh Meledak

Tindakan membakar Masjid Raya Baiturrahman ternyata berbuah menjadi bumerang bagi pihak Belanda. Rakyat Aceh semakin marah dan perlawanan meluas. Dari ulama hingga rakyat kecil, semua bangkit melakukan jihad fi sabilillah.

Akibatnya, Perang Aceh yang awalnya diprediksi Belanda akan singkat, justru berlangsung puluhan tahun. Bahkan, perang ini dikenal sebagai salah satu perang kolonial terlama dan paling brutal dalam sejarah Belanda di Nusantara.

Upaya Belanda Menebus Dosa: Membangun Kembali Masjid

Menyadari kesalahannya, Belanda kemudian mencoba mengambil hati rakyat. Pada tahun 1879, mereka membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman dengan arsitektur bergaya Moghul (India).

Masjid baru ini awalnya ditolak rakyat Aceh, karena dianggap simbol penjajah. Namun seiring waktu, masjid tersebut akhirnya diterima.

Kini, Masjid Raya Baiturrahman berkembang menjadi salah satu masjid termegah di Asia Tenggara, dengan tujuh kubah besar berwarna hitam yang ikonik.

Warisan Sejarah dan Kebanggaan Aceh

Tragedi pembakaran Masjid Raya Baiturrahman menjadi pengingat betapa kerasnya perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa semangat mempertahankan agama, budaya, dan tanah air bisa mengalahkan kekuatan penjajah sebesar apa pun.

Kini, Masjid Raya Baiturrahman berdiri megah di jantung Kota Banda Aceh. Selain sebagai pusat ibadah, masjid ini juga menjadi destinasi wisata religi dan sejarah yang wajib dikunjungi.

Tragedi pembakaran Masjid Raya Baiturrahman oleh Belanda pada tahun 1873 justru menjadi momentum yang membangkitkan semangat perjuangan rakyat Aceh.

Dari puing-puing sejarah itu lahirlah masjid megah yang hari ini menjadi ikon Aceh sekaligus simbol keteguhan iman.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemilu Singapura: Ketika Stabilitas Politik Menjadi Prioritas Utama

    Pemilu Singapura: Ketika Stabilitas Politik Menjadi Prioritas Utama

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di banyak negara demokrasi, pergantian pemerintahan sering kali diwarnai tarik-menarik kepentingan politik, koalisi yang rapuh, hingga kebijakan yang berubah-ubah. Namun, Singapura menunjukkan gambaran yang berbeda. Selama puluhan tahun, negara kota tersebut mampu mempertahankan stabilitas politik yang kuat dan konsisten, bahkan ketika dunia menghadapi berbagai gejolak ekonomi maupun politik. Salah satu kunci yang sering […]

  • Pemilu 1955: Tonggak Awal Demokrasi Elektoral Indonesia

    Pemilu 1955: Tonggak Awal Demokrasi Elektoral Indonesia

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Sepuluh tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia untuk pertama kalinya menyelenggarakan pemilihan umum secara nasional. Pemilu 1955 menjadi momentum penting ketika rakyat diberi kesempatan menentukan wakilnya melalui mekanisme pemungutan suara. Namun, Pemilu 1955 bukan sekadar cerita tentang siapa yang menang dan berapa banyak kursi yang diperoleh. Di balik pemilu pertama itu terdapat proses panjang membangun sistem […]

  • Ketika Tradisi Menjadi Beban: Sunyinya Pernikahan di Aceh

    Ketika Tradisi Menjadi Beban: Sunyinya Pernikahan di Aceh

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Oleh: Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd Dosen Fisip Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Siribee.com » Tradisi yang sejatinya memuliakan pernikahan kini justru menjadi beban bagi sebagian pemuda Aceh. Jumlah pernikahan tercatat terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Data Serambi Indonesia edisi Kamis, 22 Januari 2026, menunjukkan angka pernikahan turun dari 45.629 pasangan pada 2019 menjadi […]

  • Kisah Tiga Ulama Sufi yang Dianggap Gila Karena Cintanya Terlalu Dalam kepada Tuhan

    Kisah Tiga Ulama Sufi yang Dianggap Gila Karena Cintanya Terlalu Dalam kepada Tuhan

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di setiap zaman, selalu ada jiwa yang melampaui batas nalar manusia biasa. Mereka berbicara tentang Tuhan dengan bahasa cinta, bukan logika. Bagi sebagian orang, mereka dianggap sesat, aneh, bahkan gila, padahal mungkin merekalah yang paling sadar akan kehadiran-Nya. Orang menyebutku gila ketika aku berkata: Aku adalah Tuhan! Namun di balik kalimat yang terdengar melampaui batas […]

  • Pemilu, Pilkada dan Demokrasi: Apa Bedanya?

    Pemilu, Pilkada dan Demokrasi: Apa Bedanya?

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Pemilu dan Pilkada sama-sama memberi kesempatan kepada rakyat untuk menentukan pemimpin melalui suara. Meski demikian, keduanya memiliki tujuan, cakupan, dan dasar hukum yang berbeda dalam sistem politik Indonesia. Istilah Pemilu dan Pilkada hampir selalu muncul dalam pembicaraan mengenai demokrasi. Keduanya menjadi bagian penting dari perjalanan politik Indonesia karena memberikan ruang bagi masyarakat untuk […]

  • Akurasi Data Pemilih Jadi Prioritas, KIP Banda Aceh dan Disdukcapil Perkuat Sinergi

    Akurasi Data Pemilih Jadi Prioritas, KIP Banda Aceh dan Disdukcapil Perkuat Sinergi

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Banda Aceh – Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Banda Aceh terus memperkuat sinergi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Banda Aceh guna memastikan akurasi data pemilih sebagai bagian dari persiapan menuju pemilu mendatang. Koordinasi yang berlangsung pada Senin (22/6/2026) tersebut difokuskan pada pemutakhiran dan sinkronisasi data kependudukan yang menjadi dasar dalam penyusunan daftar […]

expand_less