Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë
- account_circle Diadanna
- calendar_month 12 jam yang lalu
- schedule 6 menit baca
- comment 1 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Judul artikel ini agak asing bagi orang-orang yang belum menguasai bahasa aceh dan juga tetap asing bagi orang-orang yang memahami Bahasa Aceh tetapi belum menguasai tamaddun (peradaban) Aceh. Pasalnya judul tersebut tidak dapat diartikan literlek sebagaimana tertulis dalam kata-kata melainkan harus dipahami makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Secara harfiyah dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Lagèi” memiliki makna: seperti, semisal, seumpama. “Boh Rôm-Rôm” merupakan arti dari satu jenis makanan Aceh yang sering dibuat, dimakan dan diperjualbelikan dalam bulan Ramadhan, bentuknya bulat kurang lebih sebesar ibujari kaki yang dibuat dari tepung ketan yang di dalamnya diisi gula aren/gula pasir dan setelah direbus masak dibalut sepintas dengan kelapa barut di luarnya.
Sedangkan “Lam” bermakna dalam/di/di atas/di dalam, sementara “Peunë” merupakan satu jenis tempat sebesar dan sebentuk piring yang dibuat dari tanah liat sehingga dapat berfungsi ganda, di Pidie produk tersebut dibuat di Kawasan Keulibeuet sehingga muncul adagium: Ureueng Keulibeuet Tanoh leukiet Geupeurupa (Orang Keulibeuet tanah liat dibentuk menjadi benda).
Ringkasnya makna “Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë” merupakan sebuah permisalan terhadap sikap, prilaku atau cara/gaya hidup seseorang yang suka mengikuti arah angin, kemana arah angin berhembus kesana pula arah hidupnya melayang-layang. Dahulu ada satu lagu ciptaan Nawawi WC dan Gama yang dinyanyikan beberapa biduanita Indonesia seperti Mega Mustika, Ine Sinthya dan Vita Alvia dengan judul: CINTA-CINTA KARET.
Di antara syair-syairnya berbungi: Cinta-cinta kaarèt sana sini lengkèèt, ada angin timur kau ikut ke timur, ada angin baraaat kaupun ikut ke baaaraaat… cinta-cinta kaarèt sana sini lengkèèt… dan seterusnya. Antara judul tulisan ini dengan judul lagu tersebut memiliki kesinambungan makna dalam tipologi yang berbeda. Kalau judul tulisan ini memberi sinyal orang-orang yang tidak punya sikap hidup ikut miring kemana peunë miring sedangkan dalam lagu tersebut menggambarkan orang-orang yang tidak istiqamah dalam kehidupan mudah dihembus oleh angin sesuai kemana arah angin itu melaju.
Contoh Barang
Dalam Sejarah kehidupan bangsa Aceh dapat kita lihat betapa sering terjadi ketulusan bangsa tersebut untuk bergabung dengan sesuatu gerakan yang berbasis perjuangan Islam seperti perang suci melawan penjajahan Belanda. Kita ambil saja satu sampel dalam masa agresi kedua Belanda terhadap Indonesia tahun 1948 yang pada waktu itu Indonesia sudah dikuasai penuh oleh penjajah, Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden sudah ditangkap, Jakarta sebagai ibukota Indonesia sudah dikuasai, ketika ibukota dipindah ke Yogyakarta, Yogyakarta juga dikuasai Belanda. Pada waktu itu tidak ada lagi kepala negara, tidak ada lagi ibukota negara dan otomatis tidak ada lagi Indonesia.
Dalam kondisi seperti itu para mujahidin dan mujahidah Aceh tampil kemedan perang yang dilambangkan dengan Perang Medan Area di Sumateri Timur. Di situlah pertahanan akhir bangsa Aceh yang membuat Indonesia eksis sampai hari ini, dan bangsa Aceh berbondong-bondong turun ke Medan Area Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë. Karena ada doktrin ulama apabila mati dalam perang tersebut namanya mati syahid maka bangsa Islam Aceh berkorban jiwa raga demi Islam walaupun nyawa dan harta benda harus dikorbankan.
Lebih awal dari itu ketika organisasi Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) eksis dan berjaya raya di bumi Aceh yang dipimpin ulama dan pemimppin kharismatik Teungku Muhammad Dawud Beureu-éh, hampir seluruh rakyat Aceh bergabung kedalamnya. Pada masa itu ada kesan kalau tidak bergabung dengan PUSA tidak enak hidup di Aceh karena gezah organisasi PUSA yang sudah menembusi peringkat antarabangsa yang membuat bangsa Aceh berbondong-bondong bergabung dalam PUSA Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë.
Ketika Hasan Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 4 Desember 1976 di Gunong Alimon Kawasan Tiro, bangsa Aceh beramai-ramai menerima dan bergabung bersamanya baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi sembunyi. Sebaliknya ketika Indonesia memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) untuk Aceh dalam tahun 1989 sampai tahun 1998 sebaliknya yang terjadi, orang-orang Aceh tiarap dari GAM dan ta’at kepada Indonesia karena berhadapan dengan kehilangan nyawa.
Kegiatan serupa kembali muncul ketika Indonesia dilanda krisis moneter dan terjadi reformasi yang menghilangkan diktator Soeharto dari kursi presiden. GAM kembali marak dan bangsa Aceh Kembali serius bergabung dan bergerak memperjuangkan kemerdekaan Aceh bersama GAM, pada waktu itu hampir seluruh bangsa Aceh langsung atau tidak langsung bergerak mendukung perjuangan GAM.
Hari ini Ketika rezim berkuasa di Aceh yang dipimpin gubernur Muzakkir Manaf berkolaborasi dengan komunitas dayah maka bangsa Aceh secara implisit atau eksplisit merapat kesana. Maka model ibadah di Aceh ikut arus modelnya mereka dan kebanyakan orang awam di Aceh membenarkan model tersebut dengan menyalahkan model ibadah orang lain, apalagi beberapa posisi kepala dinas dan jabatan penting lainnya seperti Dinas Syari’at Islam, Dinas Pendidikan Aceh, Biro Keistimewaan Aceh dan lainnya dimiliki kader-kader dayah. Dalam kondisi semisal ini Kembali bangsa Aceh membaur, larut dan meurôn-rôn dalam suasana Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë.
Yang tidak kurang dahsyatnya lagi adalah ketika pemilu curang, pilpres curang berlaku di Indonesia yang semua orang tahu itu sebuah kecurangan, tetapi orang-orang Aceh juga ikut berlaku curang untuk memenangkan calon gubernur, bupati, walikota dan anggota legislatif dengan kecurangan yang securang-curangnya. Padahal sebelumnya mereka menyatakan dengan senyata-nyatanya bahwa cara Indonesia adalah cara salah, kotor, curang dan membahayakan. Akan tetapi manakala masing-masing pihak perlu menang juga mengikuti cara jahat orang yang dalam peradaban Aceh disebut; Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë.
Antara Idealisme Islam Dengan Pengejaran Kenikmatan
Kondisi seperti terbayangkan di atas itu berhadapan antara menjaga idealisme Islam yang sekaligus idealisme Aceh dengan pelarutan dalam kenikmatan dunia ciptaan penjajah, baik penjajah dari benua Eropah maupun penjajah dari benua Asia.
Yang menjadi persoalan menarik untuk disorot di sini adalah pudarnya idealisme Islam dan hilangnya dignity ke-Aceh-an yang dititipkan para endatu seperti sultan Alaidin Al-Qahhar yang mengqishash puteranya karena kasus pembunuhan, Sultan Iskandar Muda yang menghukum rajam Putera mahkota karena melanggar hukum Islam, penolakan berdamai yang ditawarkan Belanda oleh Tgk. Chik Di Tiro Muhammad Saman, penolakan berdamai yang ditawarkan Pang Laot atas pesanan Belanda oleh Cut Nyak Dhien, penolakan tawaran rumah (Wisma Lamprit) oleh Tgk. Muhammad Dawud Beureu-eh yang diberikan pemerintah Aceh, dan lainnya.
- Penulis: Diadanna
- Editor: Murdani

Ketika manusia sudah hubbud dunya maka pertimbangan Utk akherat nya mulai berkurang dan bisa hilang seolah olah TDK ada gunanya sama sekali.. itulah manusia yg TDK mampu menguasai ( mengendalikan) hawa napsu nya.. semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan memberikan rahmat nya kepada kita.. Aamiin ya rabbal alamin 🤲🤲
11 Oktober 2026 19:36