Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë
- account_circle Diadanna
- calendar_month 13 jam yang lalu
- schedule 3 menit baca
- comment 1 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Para endatu kita sudah menitipkan idealisme dan dignity ke-Aceh-an kepada segenap generasi lanjutan tetapi generasi Aceh sekarang malah lebih memilih prilaku Indonesia yang tidak jelas dengan membiarkan keunebah endatu yang sudah pasti keistiqamahannya. Dari kisah-kisah tersebut ketika kita kawinkkan dengan kehidupan bangsa Aceh hari ini yang meurôn-rôn lagèi boh rôm-rôm lam peunë, bangsa Aceh kini sudah sangat jauh ketinggalan peradaban original peninggalan endatu.
Sesuatu bangsa yang dengan suka rela meninggalkan atribut Islam dan tamaddun original dari para endatu bermakna bangsa tersebut sedang menunggu kehancuran tamaddun dan peradaban yang dapat menghilangkan identitas bangsa dan negaranya.
Menjaga dan memelihara idealisme sesuatu bangsa itu pekerjaan sanngat rumit dan payah tapi mengejar dan mencari kenikmatan berdasarkan tuntutan nafsu itu barang murahan yang terkesan indah dan nikmat tetapi itu sesungguhnya sedang membeli kehancuran dan kemelaratan. Suatu bangsa yang terus menerus hidup Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë maka bangsa tersebut terus berjalan di atas rel yang rapuh dan berkarat yang kapan saja dengan mudah ia akan terjerumus kelembah kehancuran yang mematikan.
Oleh karenanya bangsa Aceh sudah cukup dengan berbagai pengalaman masa lalu dan masa kini untuk mengejar kenikmatan yang tidak nikmat dengan meninggalkan idealisme yang sangat idealis peninggalam para endatu.
Istilah Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë merupakan pengingat dan cambuk yang paling pedih bagi bangsa Aceh hari ini apabila masih tersisa sikap idealisme dan rasa istiqamah di kepala dan di dada anak bangsa penerus keagungan sultan Iskandar Muda ini.
Sebaliknya istilah tersebut tidak mengandung nilai apa-apa bagi mereka yang sibuk mengejar dunia yang tidak pernah lari melainkan kita mengejar sesuatu yang mati yang bermakna sipengejar dengan yang dikejar itu pada hakikatnya sudah sama-sama mati. Ketika pencari kenikmatan dunia itu sudah mati pikiran dan perasaannya mereka selalu mengejar sesuatu yang mati yang tidak pernah lari sehingga kita terus berputar dari satu kelain kelompok yang membayangi kenikmatan padahal itulah dia yang bernama Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë.
Khulashah
Kalimat Lagèi Boh Rôm-Rôm Lam Peunë terdiri dari enam perkataan: Lagèi = seperti, Boh = buah, Rôm-Rôm = nama buah tersebut, Lam = dalam dan Peunë = piring Aceh dalam bentuk agak besar yang dibuat dari tanah liat yang dibakar berwarna kuning tua kemerah-merahan. Secara harfiah ia mengandung makna; seperti Boh Rôm-Rôm Lam Peunë semacam kue yang sering digunakan orang Aceh sebagai bahan berbuka puasa di bulan Ramadhan, di pulau Jawa disebut onde-onde yang rasanya sedikit berbeda dengan Boh Rôm-Rôm.
Secara istilah kalimat tersebut bermakna; suatu jenis makanan yang berbentuk bulat berada dalam piring besar yang ketika piring tersebut miring kekanan maka semua makanan tersebut bergulir kekanan, demikian juga kalau piringnya miring kekiri ia otomatis bergulir kekiri.
Definisi tersebut menggambar sikap dan prilaku manusia yang sangat mudah berubah manakala berhadapan dengan sesuatu yang menguntungkan atau yang menakutkan mereka, seperti; Ketika Indonesia dipimpin oleh Soekarno pada masa Oerde Lama (Orla) yang menyokong Partai Komunis Indonesia (PKI) maka beramai-ramai rakyat Indonesia masuk PKI, manakala Soekarno doyan Perempuan maka poligami marak di Indonesia.
- Penulis: Diadanna
- Editor: Murdani

Ketika manusia sudah hubbud dunya maka pertimbangan Utk akherat nya mulai berkurang dan bisa hilang seolah olah TDK ada gunanya sama sekali.. itulah manusia yg TDK mampu menguasai ( mengendalikan) hawa napsu nya.. semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan memberikan rahmat nya kepada kita.. Aamiin ya rabbal alamin 🤲🤲
11 Oktober 2026 19:36