Rabu, 30 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Senja yang Terluka di Bukit Lamreh

Senja yang Terluka di Bukit Lamreh

  • account_circle Lebah Senja
  • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
  • schedule 4 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cerpen oleh: Lebah Senja

Siribee.com » Senja selalu punya cara untuk membuat manusia berhenti sejenak dari kesibukan hidupnya. Begitu pula sore itu di Bukit Lamreh, sebuah surga kecil di ujung Aceh yang menghadap langsung ke Selat Malaka.
Langit perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang menaungi laut kini berbaur dengan jingga keemasan. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantul di permukaan air, menciptakan kilauan yang menari-nari di antara ombak.
Raka berdiri di bibir tebing sambil menarik napas panjang.
“Indah sekali,” gumamnya.

Di sampingnya, Nisa sibuk mengabadikan pemandangan dengan kamera ponsel. Mereka sengaja datang menjelang sore. Tidak ada tujuan lain selain menikmati matahari terbenam yang selama ini hanya mereka lihat dari foto-foto media sosial.

Bukit Lamreh sore itu ramai oleh wisatawan. Anak-anak berlarian di rerumputan. Sekelompok mahasiswa duduk melingkar sambil bercanda. Beberapa pasangan menikmati senja dengan tenang. Semua larut dalam keindahan yang disajikan alam.

Tak ada yang menyangka bahwa di balik panorama yang menenangkan itu, tersimpan cerita yang berbeda.

Ketika matahari semakin rendah dan sebagian pengunjung mulai mencari posisi terbaik untuk menikmati sunset, beberapa pria menghampiri Raka dan Nisa.

Wajah mereka terlihat serius.
“Kalian tadi melakukan sesuatu yang tidak pantas di sini,” kata salah seorang.
Raka menoleh dengan bingung.
“Maksudnya?”
“Kami melihat sendiri.”
“Apa yang kami lakukan?”
“Tidak perlu banyak bicara.”
Nada suaranya terdengar menghakimi.

Nisa mencoba menjelaskan bahwa mereka hanya berjalan-jalan dan mengambil foto. Namun tuduhan itu terus dilontarkan tanpa penjelasan yang jelas.

Percakapan berubah menjadi tekanan.
Lalu muncullah kalimat yang membuat suasana semakin tidak nyaman.
“Kalau mau selesai baik-baik, ada jalan damai.”
Raka mulai memahami maksudnya.
“Jalan damai seperti apa?”
“Bayar saja. Biar urusannya selesai.”
Angka yang disebutkan membuat mereka terkejut.
Jutaan rupiah.

Senja yang beberapa saat lalu terasa hangat mendadak menjadi dingin.

Raka memandang laut yang terbentang di depannya. Sulit baginya memahami bagaimana tempat yang begitu indah bisa menjadi panggung bagi tindakan yang mencederai kepercayaan orang lain.

Beberapa hari kemudian, sebuah video beredar luas di media sosial.

Video itu memperlihatkan pengalaman serupa yang dialami wisatawan lain di Bukit Lamreh. Dalam rekaman tersebut terdengar keluhan mengenai dugaan pemerasan berkedok penyelesaian masalah secara kekeluargaan.

Video itu viral.
Ribuan komentar membanjiri berbagai platform.
Ada yang marah.
Ada yang kecewa.
Ada pula yang mengaku pernah mengalami kejadian serupa tetapi memilih diam karena takut persoalan menjadi panjang.
Nama Bukit Lamreh mendadak menjadi pembicaraan dimana-mana.
Bukan karena tebingnya yang memesona.
Bukan karena sunset-nya yang menakjubkan.
Melainkan karena dugaan praktik yang mencoreng citra pariwisata.
Di berbagai warung kopi di Banda Aceh, orang-orang mulai membicarakannya.
“Kalau benar seperti itu, sangat disayangkan,” kata seorang lelaki tua sambil menyeruput kopi.
“Orang datang untuk menikmati alam, bukan untuk merasa takut.”
Semua mengangguk setuju.
Aceh selama ini berusaha membangun citra sebagai daerah yang aman, religius dan ramah terhadap wisatawan. Keindahan alamnya menjadi daya tarik yang tidak ternilai.
Namun satu peristiwa dapat meninggalkan luka yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Perhatian publik semakin besar ketika berbagai pihak mulai angkat bicara.
Tokoh masyarakat, pegiat pariwisata, hingga kalangan politik meminta persoalan tersebut diusut secara tuntas.
Mereka menilai tindakan yang merugikan wisatawan tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak wajah pariwisata Aceh.
Aparat penegak hukum kemudian bergerak.
Penyelidikan dilakukan.
Sejumlah pihak dimintai keterangan.
Harapan masyarakat pun tumbuh.
Bukan hanya untuk mengungkap siapa yang salah, tetapi juga untuk mengembalikan kepercayaan yang sempat terluka.
Beberapa minggu kemudian, Raka kembali membuka foto-foto yang diambilnya di Bukit Lamreh.
Di layar ponselnya, senja itu masih tampak sempurna.
Matahari yang hampir tenggelam.
Langit berwarna jingga.
Laut yang tenang.
Semua terlihat begitu damai.
Namun kali ini ia memahami sesuatu.
Keindahan alam tidak cukup dijaga dengan pagar atau tiket masuk.
Keindahan harus dijaga dengan kejujuran.
Dengan keramahan.
Dengan rasa hormat kepada setiap orang yang datang.
Raka lalu menulis sebuah kalimat di akun media sosialnya:
“Bukit Lamreh tidak terluka oleh ombak yang menghantam tebingnya setiap hari. Ia terluka ketika keindahan yang dimilikinya tidak diiringi oleh kejujuran manusia yang menjaganya.”
Tulisan itu dibagikan ratusan kali.
Karena banyak orang merasa bahwa kalimat itu mewakili perasaan mereka.
Matahari boleh tenggelam setiap petang.
Senja boleh berakhir setiap hari.
Tetapi kebenaran tidak boleh ikut tenggelam.
Dan di atas Bukit Lamreh, langit senja terus menjadi saksi.
Saksi atas keindahan.
Saksi atas luka.
Saksi bahwa pada akhirnya, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Sebab senja mungkin terluka. Namun harapan tidak pernah benar-benar padam.

» CATATAN: Cerpen ini hadir sebagai karya fiksi dari ruang imajinasi penulis. Tokoh, nama, tempat, peristiwa dan kisah yang terjalin di dalamnya merupakan rekaan. Kemiripan dengan kenyataan atau pihak tertentu tidak dimaksudkan sebagai penggambaran nyata.

  • Penulis: Lebah Senja

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemilu 1955: Tonggak Awal Demokrasi Elektoral Indonesia

    Pemilu 1955: Tonggak Awal Demokrasi Elektoral Indonesia

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Sepuluh tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia untuk pertama kalinya menyelenggarakan pemilihan umum secara nasional. Pemilu 1955 menjadi momentum penting ketika rakyat diberi kesempatan menentukan wakilnya melalui mekanisme pemungutan suara. Namun, Pemilu 1955 bukan sekadar cerita tentang siapa yang menang dan berapa banyak kursi yang diperoleh. Di balik pemilu pertama itu terdapat proses panjang membangun sistem […]

  • Ketika Tradisi Menjadi Beban: Sunyinya Pernikahan di Aceh

    Ketika Tradisi Menjadi Beban: Sunyinya Pernikahan di Aceh

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Oleh: Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd Dosen Fisip Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Siribee.com » Tradisi yang sejatinya memuliakan pernikahan kini justru menjadi beban bagi sebagian pemuda Aceh. Jumlah pernikahan tercatat terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Data Serambi Indonesia edisi Kamis, 22 Januari 2026, menunjukkan angka pernikahan turun dari 45.629 pasangan pada 2019 menjadi […]

  • Ketukan Jam Dua Pagi

    Ketukan Jam Dua Pagi

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Lebah Senja
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Cerpen oleh: Lebah Senja Siribee.com » Ilham sudah terlalu sering bolak-balik ke Jakarta. Sebagai komisioner dari daerah, perjalanan dinas bukan lagi sesuatu yang istimewa. Bandara, hotel, ruang rapat, lalu pulang membawa setumpuk catatan evaluasi, semuanya terasa seperti rutinitas yang melelahkan. Tiga hari terakhir ia mengikuti rapat nasional tentang persiapan pemilu mendatang. Dari pagi sampai malam, pembahasannya tidak […]

  • Negara Monarki Absolut, Arab Saudi Juga Menyelenggarakan Pemilu

    Negara Monarki Absolut, Arab Saudi Juga Menyelenggarakan Pemilu

    • calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Ketika mendengar istilah pemilu, yang terbayang biasanya adalah pemilihan presiden, parlemen atau kepala daerah. Namun, tidak semua negara menggunakan pemilu untuk menentukan pemerintahan nasional. Arab Saudi menjadi salah satu contoh menarik. Negara yang dikenal sebagai monarki absolut tersebut ternyata pernah menyelenggarakan pemilihan umum. Warga Arab Saudi dapat memberikan suara dalam pemilihan anggota dewan kota atau […]

  • 5 Hal yang Perlu Diketahui Pemilih Pemula Sebelum Mengikuti Pemilu

    5 Hal yang Perlu Diketahui Pemilih Pemula Sebelum Mengikuti Pemilu

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Pemilu menjadi momentum penting bagi warga negara untuk menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan pemerintahan melalui suara yang diberikan di tempat pemungutan suara (TPS). Bagi pemilih pemula, pengalaman menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya tentu memiliki arti tersendiri. Namun, menjadi pemilih tidak cukup hanya mengetahui kapan dan di mana harus mencoblos. Pemilih juga perlu memahami bagaimana […]

  • Ambang Batas Capres Dihapus MK, Bagaimana Mengusung Capres 2029?

    Ambang Batas Capres Dihapus MK, Bagaimana Mengusung Capres 2029?

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 5
    • 0Komentar

    Siribee.com » Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) menghapus aturan presidential threshold atau ambang batas pencalonan Presiden. Keputusan ini mengubah aturan main dalam pengusungan calon Presiden dan Wakil Presiden untuk Pemilu 2029. Sebelumnya, partai politik atau gabungan partai politik harus memiliki sedikitnya 20 persen kursi DPR atau memperoleh 25 persen suara sah nasional untuk bisa mengusung […]

expand_less