Sumpah Pemuda dan Bahaya Politik yang Memecah Belah
- account_circle Yusri Razali
- calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
- schedule 3 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

Yusri Razali, Wakil Sekretaris KNPI Aceh periode 2013–2016, saat menghadiri pelantikan pengurus DPD I KNPI Aceh di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Rabu (6/11/2013).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Demokrasi akan lebih terasa dalam kehidupan sehari-hari ketika masyarakat memiliki ruang untuk menyuarakan kebutuhan, menyampaikan pandangan dan ikut mengawasi kebijakan yang dijalankan. Warga bukan sekadar menjadi penerima keputusan, melainkan turut mengambil bagian dalam proses yang menentukan kehidupan mereka sendiri.
Peran sebagai agen demokrasi juga tidak kalah penting, pemuda dapat menjadi penggerak pendidikan politik, membantu masyarakat mengenali informasi menyesatkan, menolak politik uang dan mendorong persaingan yang sehat. Di ruang digital, generasi muda bisa memulai dari hal sederhana, seperti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya dan mengajak orang lain berdiskusi tanpa saling menghina atau merendahkan.
Menuju Pemilu 2029, ruang keterlibatan tersebut perlu diperluas, pendidikan pemilih semestinya tidak hanya mengajarkan cara menggunakan hak suara di bilik pemungutan suara. Generasi muda perlu memahami rekam jejak calon, membandingkan program, mengenali pelanggaran pemilu, serta mengetahui saluran yang tersedia untuk menyampaikan laporan atau pengaduan. Dengan pemahaman yang lebih baik, partisipasi pemuda dapat memberi pengaruh nyata terhadap kualitas demokrasi.
Menjaga Persatuan, Mengawal Demokrasi
Menjaga persatuan bukan berarti meminta masyarakat berhenti mengkritik pemerintah atau menerima seluruh keputusan pemimpin. Demokrasi justru membutuhkan warga yang berani menyampaikan keberatan ketika kebijakan tidak berpihak kepada kepentingan umum. Kritik berdasarkan fakta merupakan bagian dari tanggung jawab politik, bukan ancaman terhadap kebangsaan.
Partai politik dan para peserta pemilu memiliki tanggung jawab untuk menjaga persaingan tetap berada dalam koridor yang sehat. Pemilih perlu mendapat ruang untuk mengenal program, menilai kemampuan, dan menelusuri rekam jejak setiap calon sebelum menentukan pilihan. Kampanye yang mengedepankan gagasan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berpikir lebih jernih. Sebaliknya, ketika persaingan dipenuhi ujaran kebencian dan serangan pribadi, perhatian publik justru menjauh dari persoalan yang semestinya dibahas.
Membangun kesadaran demokrasi tidak bisa dilakukan hanya ketika pemilu sudah di depan mata. Penyelenggara pemilu perlu terus memberikan pendidikan kepada pemilih dan memastikan informasi yang dibutuhkan masyarakat mudah diperoleh serta dipahami. Di saat yang sama, organisasi kepemudaan, kampus, sekolah, komunitas dan media dapat membuka ruang belajar dan diskusi tentang demokrasi. Jika dilakukan secara berkelanjutan, upaya ini membantu masyarakat lebih cermat menyaring informasi, memahami persoalan, dan menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang matang.
Semangat Sumpah Pemuda juga mengingatkan bahwa perbedaan tidak harus dihapus untuk menjaga kebersamaan. Pemuda boleh berbeda pilihan, mendukung calon yang tidak sama atau bersaing untuk menduduki jabatan publik. Namun, perbedaan itu tidak seharusnya menghilangkan rasa hormat terhadap sesama. Dalam demokrasi, persaingan merupakan hal yang wajar, tetapi hubungan antarsesama warga tetap perlu dijaga agar perbedaan politik tidak berujung pada permusuhan.
Hampir satu abad setelah ikrar 1928, tantangan generasi muda bukan lagi sekadar membangun kesadaran tentang satu bangsa. Tugas pemuda juga mencakup upaya memastikan demokrasi berjalan dengan integritas, pembangunan berlangsung dengan melibatkan masyarakat dan kekuasaan tetap terbuka terhadap pengawasan.
Pemilu 2029 dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat peran tersebut, bukan hanya melalui banyaknya pemuda yang menggunakan hak pilih, melainkan juga melalui kehadiran mereka sebagai penyelenggara, calon pemimpin, penggerak pembangunan, pengawal kebijakan dan agen demokrasi di tengah masyarakat.
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa cita-cita bersama dapat dibangun di tengah keragaman, warisan itu akan tetap hidup ketika generasi muda mampu menjaga persatuan tanpa menghindari kritik, berani terlibat tanpa mengabaikan etika serta menjadikan demokrasi sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan bersama.
- Penulis: Yusri Razali

Saat ini belum ada komentar