Dari Madrasah, KIP Banda Aceh Dorong Lahirnya Agen Demokrasi
- account_circle Redaksi
- calendar_month 18 menit yang lalu
- schedule 3 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

Yusri Razali
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDA ACEH, Siribee.com – Demokrasi tidak hanya dipelajari melalui buku atau dibicarakan menjelang pemilihan umum. Nilai-nilainya dapat tumbuh dari pengalaman sederhana di lingkungan sekolah, mulai dari menyampaikan pendapat, menentukan pilihan, hingga menghormati keputusan bersama.
Prinsip inilah yang menjadi bagian penting dalam pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM). Melalui Pemilihan OSIM (Pemilos) 2026 di MAN 3 Banda Aceh, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Banda Aceh mendorong siswa mengenal demokrasi sekaligus mengambil peran sebagai agen demokrasi sejak dini.
Ajakan tersebut disampaikan Ketua Divisi Perencanaan dan Data KIP Kota Banda Aceh, Yusri Razali, dalam kegiatan Pemilos yang berlangsung pada Jumat (23/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian Peukan Raya 2026.
Pemilihan OSIM menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan dan praktik demokrasi. Siswa tidak hanya mengenal mekanisme pemilihan pemimpin, tetapi juga belajar menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab, mempertimbangkan gagasan calon, serta memahami arti sebuah kepercayaan.
Dalam proses menentukan pilihan, siswa perlu melihat lebih jauh daripada popularitas atau kedekatan pertemanan. Visi, misi, kemampuan, dan komitmen calon dalam menjalankan amanah merupakan hal yang patut dipertimbangkan. Kebiasaan menilai gagasan secara kritis seperti ini penting dibangun agar pilihan lahir dari pertimbangan yang matang.
Namun, pendidikan demokrasi tidak berhenti pada cara memilih. Sikap setelah hasil pemilihan ditetapkan juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Mereka yang terpilih harus siap menjalankan tanggung jawab, sedangkan mereka yang belum memperoleh kepercayaan tetap dapat berkontribusi bagi kemajuan organisasi.
Perbedaan pilihan pun perlu ditempatkan secara wajar. Setiap siswa memiliki hak untuk menentukan pilihannya tanpa tekanan. Dukungan kepada calon yang berbeda tidak semestinya merusak persahabatan atau menimbulkan permusuhan. Demokrasi justru membutuhkan kemampuan untuk tetap bekerja sama di tengah perbedaan.
Membangun Demokrasi dari Lingkungan Sekolah
Pemilos 2026 dibuka oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Syafruddin, S.Ag. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala MAN 3 Banda Aceh, Dr. Junaidi Ibas, S.Ag., M.Si., serta Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, Prof. Habiburrahim, S.Ag., M.H.R.M., Ph.D., yang hadir mewakili Komite MAN 3 Banda Aceh.
Keterlibatan unsur penyelenggara pemilu dan lingkungan pendidikan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengenalan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda. Sekolah dan madrasah memiliki ruang strategis untuk membiasakan siswa berdialog, menghargai pendapat, mengambil keputusan secara adil, serta bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Pembelajaran semacam ini relevan bagi siswa yang kelak akan memasuki kehidupan politik dan sosial sebagai warga negara. Mereka perlu memahami bahwa partisipasi dalam demokrasi bukan sekadar datang ke tempat pemungutan suara, melainkan juga mencakup kesediaan mencari informasi, menilai pilihan secara kritis, menghormati hak orang lain, dan mengawasi pelaksanaan amanah.
Pemahaman tersebut juga membantu menumbuhkan kesadaran bahwa kepemimpinan bukan semata-mata tentang jabatan. Seorang pemimpin perlu mendengarkan aspirasi, bersedia menerima kritik, dan mengutamakan kepentingan bersama. Nilai-nilai itu dapat dipraktikkan sejak menjadi pengurus OSIM sebelum diterapkan dalam ruang kehidupan yang lebih luas.
Agen Demokrasi Dimulai dari Hal Sederhana
Menjadi agen demokrasi tidak selalu harus dimulai melalui kegiatan besar. Siswa dapat mengambil peran dengan membiasakan diri bersikap jujur, tidak memaksakan pilihan kepada orang lain, menolak praktik yang merusak kebebasan memilih, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog.
Kebiasaan tersebut akan lebih bermakna apabila diterapkan secara konsisten, bukan hanya selama masa pemilihan. Dengan demikian, demokrasi tumbuh sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar prosedur untuk menentukan siapa yang memimpin.
Melalui Pemilos di MAN 3 Banda Aceh, KIP Kota Banda Aceh mendorong agar pengalaman memilih di lingkungan madrasah menjadi bekal bagi siswa untuk berpartisipasi secara sadar dalam kehidupan demokrasi. Dari ruang sekolah, generasi muda dapat belajar bahwa demokrasi membutuhkan kebebasan memilih sekaligus tanggung jawab, menghargai perbedaan sekaligus menjaga persatuan.






- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar