Jumat, 6 Nov 2026
light_mode
Trending
Beranda » Headline » Pemikiran Politik Syiah Kuala, Demokrasi dan Kepemimpinan Perempuan di Aceh

Pemikiran Politik Syiah Kuala, Demokrasi dan Kepemimpinan Perempuan di Aceh

  • account_circle Yusri Razali
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • schedule 2 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Salam Apresiasi

Jika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.

Syiah Kuala kemudian dipercaya menduduki jabatan Qadhi Malikul Adil, posisi penting dalam struktur hukum Kesultanan Aceh. Tanggung jawab tersebut membuatnya berada dekat dengan pusat pengambilan keputusan. Ia bukan penguasa yang memegang takhta, tetapi menjadi salah satu figur keagamaan dan hukum yang memiliki tempat dalam penyelenggaraan pemerintahan

Kedudukan itu memperlihatkan corak kehidupan politik Aceh pada masa tersebut. Ulama tidak hanya berurusan dengan pengajaran agama di tengah masyarakat, tetapi juga dapat dimintai pertimbangan dalam persoalan hukum dan pemerintahan. Hubungan antara pengetahuan agama dan kekuasaan menjadi bagian dari tata kehidupan kerajaan

Ketika Ulama Mendampingi Sultanah Safiatuddin

Perjalanan Syiah Kuala beririsan dengan salah satu periode penting dalam sejarah politik Aceh, yakni pemerintahan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah. Ia naik takhta pada 1641 setelah wafatnya Sultan Iskandar Thani dan memerintah hingga 1675. Selama sekitar 34 tahun, Safiatuddin menjalankan pemerintahan di tengah perubahan politik serta perdebatan mengenai perempuan yang menduduki jabatan tertinggi kerajaan.

Kepemimpinan Safiatuddin bukan sekadar catatan pergantian penguasa. Ia menjadi bagian dari sejarah ketika perempuan mengambil tanggung jawab besar dalam mengelola kerajaan. Pada masa itu, penerimaan terhadap perempuan sebagai pemimpin masih menghadapi perdebatan, termasuk di lingkungan keagamaan. Sebagian kalangan mempersoalkan kedudukan perempuan berdasarkan penafsiran terhadap ajaran Islam.

Di tengah keadaan tersebut, Syiah Kuala menjalankan tugasnya sebagai ulama dan pejabat hukum dalam pemerintahan Safiatuddin. Ia menerima kedudukan Qadhi Malikul Adil dan menyusun Mir’at al-Thullab atas permintaan Sultanah. Hubungan ini memperlihatkan bahwa kehadiran perempuan di puncak pemerintahan tidak serta-merta membuat ulama tersebut menjauh dari kerajaan.

Sikap Syiah Kuala menarik dibaca melalui tindakan dan perannya dalam konteks zamannya. Ia tidak meninggalkan rumusan tentang demokrasi atau kesetaraan politik seperti yang dikenal sekarang. Namun, keterlibatannya dalam pemerintahan Safiatuddin menunjukkan adanya ruang penerimaan terhadap kepemimpinan perempuan dalam praktik politik Kesultanan Aceh.

Setelah Safiatuddin mengakhiri pemerintahannya, takhta Aceh kembali diduduki tiga sultanah, yakni Nurul Alam Naqiatuddin Syah, Inayat Syah Zakiyatuddin Syah dan Kamalat Syah. Rangkaian pemerintahan perempuan tersebut menjadi bagian penting dari identitas sejarah Aceh. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa perempuan pernah menjalankan kekuasaan tertinggi dalam sebuah kerajaan Islam di Nusantara.

  • Penulis: Yusri Razali
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Daftar Lengkap Alamat Bawaslu se-Indonesia, dari Bawaslu RI hingga 38 Provinsi

    Daftar Lengkap Alamat Bawaslu se-Indonesia, dari Bawaslu RI hingga 38 Provinsi

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›Siribee.com – Mencari alamat Bawaslu se-Indonesia? Informasi mengenai alamat kantor Bawaslu penting diketahui masyarakat, terutama bagi yang ingin mendapatkan informasi kepemiluan, menyampaikan laporan dugaan pelanggaran, atau mengakses layanan dan informasi pengawasan pemilu. Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) memiliki jaringan […]

  • Mengenal Partai Politik Lokal di Aceh, Sejarah, Dasar Hukum dan Syarat Pendiriannya

    Mengenal Partai Politik Lokal di Aceh, Sejarah, Dasar Hukum dan Syarat Pendiriannya

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›Dasar Hukum dan Syarat Mendirikan Partai Politik Lokal Aceh Kerangka hukum pembentukan partai politik lokal terutama bertumpu pada tiga regulasi, yakni UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, PP Nomor 20 Tahun 2007 tentang Partai Politik Lokal di […]

  • Amsal Alfian: Jejak Sunyi Menuju Ketua Umum PB PII

    Amsal Alfian: Jejak Sunyi Menuju Ketua Umum PB PII

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›Siribee.com – Riuh tepuk tangan itu tak sekadar menggema, ia bergetar, memantul di dinding ruang sidang, seakan membawa denyut sejarah yang baru saja ditulis. Palu diketuk. Satu ketukan yang sederhana, tetapi sarat makna. Di jantung Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada […]

  • Jejak Biaya Pemilu Indonesia

    Jejak Biaya Pemilu Indonesia

    • calendar_month Kamis, 5 Nov 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi › Infografis JEJAK BIAYAPEMILU INDONESIA Perjalanan 13 Pemilu Nasional: Dari sistem pemilihan pertama hingga demokrasi elektoral modern. 1955 — 2024 13 PEMILU NASIONAL Dari satu pemilu ke pemilu berikutnya, Indonesia mengalami perubahan dalam sistem pemilihan, jabatan yang dipilih rakyat, […]

  • Sejarah Perang Aceh: Jihad, Keberanian dan Harga Diri Bangsa

    Sejarah Perang Aceh: Jihad, Keberanian dan Harga Diri Bangsa

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›Keruntuhan Kesultanan, Tapi Bukan Akhir Perlawanan Pada 1874, Belanda secara sepihak menyatakan bahwa Kesultanan Aceh telah “berakhir”. Mereka menganggap wilayah Aceh sudah menjadi bagian dari Hindia Belanda. Namun kenyataannya berbeda. Perlawanan rakyat terus berlanjut selama puluhan tahun. Gerilya di […]

  • Pemilu 1982: Golkar Kembali Menang, Ini Peta Kekuatan Politik Saat Itu

    Pemilu 1982: Golkar Kembali Menang, Ini Peta Kekuatan Politik Saat Itu

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›Siribee.com – Kemenangan Golongan Karya (Golkar) dalam Pemilu 1982 semakin mempertegas dominasi politik pemerintahan Orde Baru. Perolehan suaranya jauh meninggalkan dua pesaing, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Namun, hasil pemilu di tingkat nasional menyimpan cerita […]

expand_less