Tabayyun dalam Tradisi Politik dan Demokrasi
- account_circle Muhammad Yusuf
- calendar_month 7 jam yang lalu
- schedule 3 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Demokrasi hari ini menghadapi ironi yang sulit diabaikan. Masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi belum tentu semakin dekat dengan kebenaran. Satu potongan video dapat mengubah pandangan terhadap seorang tokoh, satu tangkapan layar bisa merusak reputasi seseorang, sementara sebuah tuduhan yang belum terbukti mampu membentuk opini publik sebelum klarifikasi sempat disampaikan.
Di ruang digital, seseorang bahkan bisa lebih dahulu dihukum oleh opini masyarakat daripada diperiksa berdasarkan fakta. Inilah salah satu persoalan serius dalam demokrasi, ketika kecepatan menyebarkan kabar lebih dihargai daripada kesediaan memeriksa kebenaran.
Hoaks politik tidak selalu bekerja dengan cara menciptakan cerita palsu secara utuh. Terkadang, informasi yang benar dipotong dari konteksnya, pernyataan lama dihidupkan kembali seolah-olah baru terjadi, atau fakta tertentu dicampur dengan dugaan untuk membangun kesan yang menyesatkan. Fitnah digital kemudian tumbuh melalui komentar, unggahan, dan percakapan berantai yang sulit dikendalikan.
Persoalannya bukan semata-mata masyarakat kekurangan informasi, melainkan semakin terbiasa mengambil kesimpulan sebelum memahami persoalan secara utuh.
Ketika perbedaan politik berubah menjadi permusuhan sosial
Salah satu dampak paling berbahaya dari fitnah politik justru tidak selalu terlihat saat informasi palsu pertama kali beredar. Dampak sesungguhnya muncul jauh setelah peristiwa politik berlalu, ketika hubungan sosial telanjur rusak.
Dalam masyarakat yang memiliki ikatan keluarga, persaudaraan, dan hubungan kekerabatan yang kuat, perbedaan pilihan politik semestinya tidak menghapus rasa saling menghormati. Namun, fitnah digital dapat membawa persaingan politik masuk ke ruang yang lebih pribadi. Orang mulai mencurigai tetangga, meragukan teman, bahkan memutus hubungan hanya karena perbedaan pandangan yang diperkuat informasi tidak terverifikasi.
Demokrasi akhirnya kehilangan salah satu modal terpentingnya, yakni kepercayaan sosial. Padahal, pemilu hanya berlangsung pada waktu tertentu, sementara masyarakat harus terus hidup berdampingan setelah seluruh proses politik selesai.
Tabayyun bukan sekadar ajaran agama, melainkan etika kewargaan
Islam telah mengajarkan prinsip tabayyun melalui Surah Al-Hujurat ayat 6. Umat diperintahkan memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mengambil tindakan yang dapat merugikan orang lain.
Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dalam kehidupan demokrasi modern. Tabayyun bukan berarti menolak informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan pribadi, melainkan bersedia menguji setiap kabar, termasuk informasi yang menguntungkan kelompok politik sendiri.
Di sinilah tantangan terbesarnya. Banyak orang mudah meragukan berita yang merugikan pilihannya, tetapi begitu cepat mempercayai kabar buruk tentang pihak yang tidak disukainya. Kebenaran akhirnya diukur berdasarkan keberpihakan, bukan berdasarkan bukti.
Sikap seperti ini membuat masyarakat rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menjadikan kebencian sebagai alat politik.
Demokrasi membutuhkan keberanian untuk tidak ikut menyebarkan
Selama ini, kecakapan digital sering diukur dari kemampuan menggunakan teknologi dan mengakses informasi. Padahal, ada kemampuan lain yang tidak kalah penting, yaitu menahan diri untuk tidak meneruskan kabar yang belum jelas kebenarannya.
Tidak semua informasi harus segera dibagikan. Tidak setiap tuduhan perlu diberi komentar. Bahkan, tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Sikap kritis juga harus berlaku kepada tokoh, partai, dan kelompok yang kita dukung. Membela pilihan politik bukan berarti membenarkan segala tindakan pendukungnya, apalagi ikut menyebarkan tuduhan tanpa bukti.
Demokrasi yang sehat tidak menuntut masyarakat selalu sepakat, tetapi membutuhkan warga yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan akal sehat dan rasa kemanusiaan.
Tabayyun seharusnya menjadi kebiasaan sosial, bukan sekadar nasihat keagamaan yang diingat ketika muncul persoalan. Sebab, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menang dalam pemilu, tetapi juga oleh bagaimana masyarakat memperlakukan kebenaran dan sesamanya.
Jangan sampai kita begitu sibuk memenangkan perdebatan politik, sampai lupa menjaga keutuhan masyarakat yang akan kita tinggali bersama setelah perdebatan itu berakhir.
- Penulis: Muhammad Yusuf
- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar