Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Trending
Beranda » Madani » Tabayyun dalam Tradisi Politik dan Demokrasi

Tabayyun dalam Tradisi Politik dan Demokrasi

  • account_circle Muhammad Yusuf
  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Demokrasi hari ini menghadapi ironi yang sulit diabaikan. Masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi belum tentu semakin dekat dengan kebenaran. Satu potongan video dapat mengubah pandangan terhadap seorang tokoh, satu tangkapan layar bisa merusak reputasi seseorang, sementara sebuah tuduhan yang belum terbukti mampu membentuk opini publik sebelum klarifikasi sempat disampaikan.

Di ruang digital, seseorang bahkan bisa lebih dahulu dihukum oleh opini masyarakat daripada diperiksa berdasarkan fakta. Inilah salah satu persoalan serius dalam demokrasi, ketika kecepatan menyebarkan kabar lebih dihargai daripada kesediaan memeriksa kebenaran.

Hoaks politik tidak selalu bekerja dengan cara menciptakan cerita palsu secara utuh. Terkadang, informasi yang benar dipotong dari konteksnya, pernyataan lama dihidupkan kembali seolah-olah baru terjadi, atau fakta tertentu dicampur dengan dugaan untuk membangun kesan yang menyesatkan. Fitnah digital kemudian tumbuh melalui komentar, unggahan, dan percakapan berantai yang sulit dikendalikan.

Persoalannya bukan semata-mata masyarakat kekurangan informasi, melainkan semakin terbiasa mengambil kesimpulan sebelum memahami persoalan secara utuh.

Ketika perbedaan politik berubah menjadi permusuhan sosial

Salah satu dampak paling berbahaya dari fitnah politik justru tidak selalu terlihat saat informasi palsu pertama kali beredar. Dampak sesungguhnya muncul jauh setelah peristiwa politik berlalu, ketika hubungan sosial telanjur rusak.

Dalam masyarakat yang memiliki ikatan keluarga, persaudaraan, dan hubungan kekerabatan yang kuat, perbedaan pilihan politik semestinya tidak menghapus rasa saling menghormati. Namun, fitnah digital dapat membawa persaingan politik masuk ke ruang yang lebih pribadi. Orang mulai mencurigai tetangga, meragukan teman, bahkan memutus hubungan hanya karena perbedaan pandangan yang diperkuat informasi tidak terverifikasi.

Demokrasi akhirnya kehilangan salah satu modal terpentingnya, yakni kepercayaan sosial. Padahal, pemilu hanya berlangsung pada waktu tertentu, sementara masyarakat harus terus hidup berdampingan setelah seluruh proses politik selesai.

Tabayyun bukan sekadar ajaran agama, melainkan etika kewargaan

Islam telah mengajarkan prinsip tabayyun melalui Surah Al-Hujurat ayat 6. Umat diperintahkan memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mengambil tindakan yang dapat merugikan orang lain.

Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dalam kehidupan demokrasi modern. Tabayyun bukan berarti menolak informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan pribadi, melainkan bersedia menguji setiap kabar, termasuk informasi yang menguntungkan kelompok politik sendiri.

Di sinilah tantangan terbesarnya. Banyak orang mudah meragukan berita yang merugikan pilihannya, tetapi begitu cepat mempercayai kabar buruk tentang pihak yang tidak disukainya. Kebenaran akhirnya diukur berdasarkan keberpihakan, bukan berdasarkan bukti.

Sikap seperti ini membuat masyarakat rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menjadikan kebencian sebagai alat politik.

Demokrasi membutuhkan keberanian untuk tidak ikut menyebarkan

Selama ini, kecakapan digital sering diukur dari kemampuan menggunakan teknologi dan mengakses informasi. Padahal, ada kemampuan lain yang tidak kalah penting, yaitu menahan diri untuk tidak meneruskan kabar yang belum jelas kebenarannya.

Tidak semua informasi harus segera dibagikan. Tidak setiap tuduhan perlu diberi komentar. Bahkan, tidak semua perdebatan harus dimenangkan.

Sikap kritis juga harus berlaku kepada tokoh, partai, dan kelompok yang kita dukung. Membela pilihan politik bukan berarti membenarkan segala tindakan pendukungnya, apalagi ikut menyebarkan tuduhan tanpa bukti.

Demokrasi yang sehat tidak menuntut masyarakat selalu sepakat, tetapi membutuhkan warga yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan akal sehat dan rasa kemanusiaan.

Tabayyun seharusnya menjadi kebiasaan sosial, bukan sekadar nasihat keagamaan yang diingat ketika muncul persoalan. Sebab, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menang dalam pemilu, tetapi juga oleh bagaimana masyarakat memperlakukan kebenaran dan sesamanya.

Jangan sampai kita begitu sibuk memenangkan perdebatan politik, sampai lupa menjaga keutuhan masyarakat yang akan kita tinggali bersama setelah perdebatan itu berakhir.

  • Penulis: Muhammad Yusuf
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Daftar Alamat KPU se-Indonesia Lengkap, dari KPU RI hingga Provinsi

    Daftar Alamat KPU se-Indonesia Lengkap, dari KPU RI hingga Provinsi

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Siribee.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) merupakan lembaga penyelenggara pemilu yang bertugas memastikan seluruh tahapan pemilihan umum berlangsung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Keberadaan kantor KPU di tingkat nasional dan provinsi menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan serta pelayanan kepemiluan kepada masyarakat. Bagi masyarakat, peserta pemilu, maupun pihak yang membutuhkan informasi terkait penyelenggaraan pemilu, mengetahui […]

  • Sumpah Pemuda dan Bahaya Politik yang Memecah Belah

    Sumpah Pemuda dan Bahaya Politik yang Memecah Belah

    • calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Oleh: Yusri Razali — Komisioner KIP Banda Aceh Hampir seabad lalu, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul dengan latar belakang, bahasa dan lingkungan pergaulan yang berbeda, mereka tidak datang dengan keseragaman pandangan. Namun, dari pertemuan itu lahir sebuah kesepakatan yang mengubah cara orang membayangkan Indonesia yaitu satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Pada […]

  • Ketika Tradisi Menjadi Beban: Sunyinya Pernikahan di Aceh

    Ketika Tradisi Menjadi Beban: Sunyinya Pernikahan di Aceh

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Oleh: Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd Dosen Fisip Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Siribee.com » Tradisi yang sejatinya memuliakan pernikahan kini justru menjadi beban bagi sebagian pemuda Aceh. Jumlah pernikahan tercatat terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Data Serambi Indonesia edisi Kamis, 22 Januari 2026, menunjukkan angka pernikahan turun dari 45.629 pasangan pada 2019 menjadi […]

  • Abu Daud Beureueh: Cahaya dari Aceh yang Layak Jadi Pahlawan Nasional

    Abu Daud Beureueh: Cahaya dari Aceh yang Layak Jadi Pahlawan Nasional

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Siribee.com – Teungku Muhammad Daud Beureueh, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Daud Beureueh, merupakan sosok yang tidak hanya berperan penting di Aceh, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia adalah ulama, pejuang, sekaligus pemimpin yang mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa. Sayangnya, hingga saat ini, pengakuan resmi negara […]

  • Pemilih Pemula? Yuk, Jadi Generasi Melek Politik Sejak Dini!

    Pemilih Pemula? Yuk, Jadi Generasi Melek Politik Sejak Dini!

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Zar
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Siribee.com » Demokrasi bukan sekadar slogan yang dibaca saat pemilu tiba. Ia lahir dari kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif, bijak, dan bertanggung jawab dalam menentukan arah bangsa. Untuk itu, penting bagi generasi muda, khususnya pemilih pemula, untuk mulai memahami dunia politik sejak dini. Seringkali sosialisasi pemilu hanya gencar dilakukan menjelang hari H. Padahal, membangun kesadaran politik […]

  • Manfaat Labu Kuning untuk Kesehatan: Sumber Nutrisi Alami yang Kaya Khasiat

    Manfaat Labu Kuning untuk Kesehatan: Sumber Nutrisi Alami yang Kaya Khasiat

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Siribee.com – Labu kuning merupakan salah satu bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di Indonesia dan telah lama dimanfaatkan dalam berbagai hidangan tradisional, mulai dari kolak, sup, hingga kue khas daerah. Selain rasanya yang manis alami dan teksturnya yang lembut, labu kuning juga dikenal sebagai sumber nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Dalam pola makan […]

expand_less