Sabtu, 7 Nov 2026
light_mode
Trending
Beranda » Berita » Nur Hidayat Sardini: Independensi Penyelenggara Pemilu Diuji Jelang 2029

Nur Hidayat Sardini: Independensi Penyelenggara Pemilu Diuji Jelang 2029

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Salam Apresiasi

Jika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.

BANDA ACEH, Siribee.com – Independensi penyelenggara pemilu tidak cukup dibuktikan melalui status hukum atau pemisahan kelembagaan dari pemerintah. Kemandirian justru diuji ketika penyelenggara harus mengambil keputusan di tengah tekanan politik, kepentingan tertentu dan tuntutan berbagai pihak.

Hal tersebut disampaikan Dr. Nur Hidayat Sardini, S.Sos., S.H., M.Si, mantan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI periode 2008–2011, dalam kegiatan Mimbar Demokrasi yang diselenggarakan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Banda Aceh, Sabtu (7/11/2026).

Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Lahir Komisi Pemilihan Umum (KPU) ke-73, Nur Hidayat menyampaikan materi bertajuk Kemandirian, Integritas dan Penyelenggara Pemilu: Mengawal Suara Rakyat Menjaga Demokrasi. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu bertumpu pada tiga hal, yakni kemandirian, integritas dan kredibilitas.

Pengalaman Nur Hidayat dalam mengawal etika penyelenggara pemilu juga tercatat ketika ia menjabat sebagai anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI periode 2012–2017.

Menurut dia, lembaga penyelenggara pemilu harus memiliki kebebasan mengambil keputusan tanpa tunduk pada tekanan pemerintah, kekuatan politik, maupun kepentingan lain. Namun, kemandirian bukan berarti bebas dari pertanggungjawaban. Setiap keputusan tetap harus memiliki dasar hukum dan bukti yang dapat diperiksa.

Ia juga mengingatkan bahwa integritas tidak cukup dibangun melalui kejujuran personal atau citra kelembagaan. Integritas harus bekerja dalam sistem, mulai dari pengelolaan data pemilih, pengamanan dokumen hasil, pencatatan koreksi angka, hingga penanganan pengaduan masyarakat.

Lembaga yang berintegritas, menurutnya, bukan lembaga yang mengklaim tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan yang mampu menemukan, menjelaskan dan memperbaiki kekeliruan secara terbuka.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan kiprahnya di dunia akademik. Nur Hidayat saat ini dikenal sebagai pengajar pemilu pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.

Sementara itu, kredibilitas tidak dapat disamakan dengan popularitas. Penyelenggara yang aktif berkomunikasi dan memiliki tampilan digital meyakinkan belum tentu memiliki kinerja yang dapat dipercaya. Kredibilitas harus dibuktikan melalui kompetensi, konsistensi, keterbukaan serta keputusan yang bisa ditelusuri.

Nur Hidayat juga menempatkan kritik masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pemilu. Kritik yang disertai dasar dan bukti semestinya tidak dianggap sebagai gangguan, tetapi menjadi kesempatan untuk mengevaluasi dan memperbaiki kelemahan kelembagaan.

Dalam konteks Aceh, ia menyoroti kekhususan mekanisme pengusulan anggota KIP Aceh dan KIP kabupaten/kota sebagaimana diatur dalam Pasal 56 ayat (5) dan (6) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Mekanisme yang melibatkan DPRA/DPRK tersebut, menurutnya, menuntut seleksi transparan dan pengelolaan konflik kepentingan agar independensi KIP tetap terjaga setelah anggota ditetapkan.

Menjelang Pemilu 2029, Nur Hidayat mendorong KIP memperkuat audit risiko berdasarkan pengalaman Pemilu dan Pilkada 2024, mengendalikan benturan kepentingan, memastikan keterlacakan dokumen dan koreksi hasil, memperbaiki mekanisme pengaduan, serta menjadikan evaluasi bersama pengawas, peserta, pemantau dan kelompok pemilih sebagai agenda berkelanjutan.

Ia juga menekankan pentingnya pelayanan yang setara bagi seluruh kelompok pemilih, termasuk perempuan, pemilih muda, penyandang disabilitas dan warga dengan keterbatasan akses informasi.

Pesan utamanya, kepercayaan publik tidak cukup dibangun melalui komunikasi dan citra kelembagaan. Penyelenggara pemilu harus menunjukkan bahwa setiap keputusan dibuat secara mandiri, setiap proses dapat diperiksa, dan setiap kritik memperoleh ruang untuk ditindaklanjuti.

Dengan demikian, menjaga demokrasi bukan hanya soal memastikan pemungutan suara berlangsung, tetapi juga memastikan seluruh prosesnya berlangsung secara adil, berintegritas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tags
  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tabayyun dalam Tradisi Politik dan Demokrasi

    Tabayyun dalam Tradisi Politik dan Demokrasi

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi › Oleh: Tgk. Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd — Dosen Fisip Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Demokrasi hari ini menghadapi ironi yang sulit diabaikan. Masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi belum tentu semakin dekat dengan kebenaran. Satu potongan […]

  • Sejarah KIP Aceh: Menjaga Suara di Tanah yang Pernah Berkonflik

    Sejarah KIP Aceh: Menjaga Suara di Tanah yang Pernah Berkonflik

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi › Oleh: Yusri Razali — Komisioner KIP Banda Aceh Berbicara tentang Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh berarti berbicara tentang lebih dari sekadar lembaga penyelenggara pemilu atau pilkada, di dalamnya ada dinamika, tantangan dan perjalanan panjang menjaga demokrasi tetap berjalan […]

  • MK Gelar Sidang Pertama PHPU Pilpres 2024, Mengapa Syarat Calon Kembali Dipersoalkan?

    MK Gelar Sidang Pertama PHPU Pilpres 2024, Mengapa Syarat Calon Kembali Dipersoalkan?

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›JAKARTA, Siribee.com – Mahkamah Konstitusi (MK) kembali membuka ruang persidangan terkait Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024. Senin (21/9/2026) malam, MK dijadwalkan menggelar sidang perdana perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2024 yang mempersoalkan […]

  • Bendera Bulan Bintang Aceh: Sejarah, Makna dan Perjalanannya hingga Sekarang

    Bendera Bulan Bintang Aceh: Sejarah, Makna dan Perjalanannya hingga Sekarang

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›Siribee.com » Bendera Bulan Bintang Aceh merupakan salah satu simbol yang paling banyak diperbincangkan dalam perjalanan sejarah politik dan identitas Aceh. Bendera dengan warna dasar merah, garis hitam dan putih, serta gambar bulan dan bintang lima di bagian tengah ini tidak […]

  • Gerakan Wakaf Siribee: Dari Seribu Rupiah, Bikin Media Positif Makin Hits!

    Gerakan Wakaf Siribee: Dari Seribu Rupiah, Bikin Media Positif Makin Hits!

    • calendar_month Sabtu, 23 Agt 2025
    • account_circle Sayed M. Husen
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›Pada zaman sekarang, info tersebar super cepat. Sayangnya, yang sering viral justru hoaks, ujaran kebencian atau konten yang gak ada faedahnya. Padahal, media punya peran penting banget buat ngebentuk cara pikir masyarakat. Karena itu, hadirnya media yang positif, jujur […]

  • Gelombang Protes Jakarta: Benarkah Kepercayaan Publik Mulai Runtuh?

    Gelombang Protes Jakarta: Benarkah Kepercayaan Publik Mulai Runtuh?

    • calendar_month Kamis, 28 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Salam ApresiasiJika artikel ini bermanfaat, traktir kami secangkir kopi untuk mendukung konten dan jurnalisme positif.Traktir Kopi ›Siribee.com » Jakarta kembali menjadi pusat perhatian publik setelah aksi demo besar-besaran digelar di sejumlah titik strategis ibu kota. Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada […]

expand_less