Kursi yang Tetap Kami Sisakan
- account_circle Lebah Senja
- calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
- schedule 8 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Siribee.com » Hujan turun ketika mereka mulai bertengkar. Bukan pertengkaran besar. Tidak ada piring yang dilempar. Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada suara yang membuat tetangga keluar rumah dan bertanya apa yang terjadi.
“Kalau aku jadi dia, aku tidak akan memilih orang itu,” kata Arif.
Nisa berhenti menyendok nasi.
“Kenapa?”
“Karena jelas.”
“Jelas menurut siapa?”
“Menurutku.”
Nisa tersenyum tipis.
“Nah. Menurutmu.”
Arif menatap adiknya.
“Memangnya menurutmu bagaimana?”
“Berbeda.”
“Selalu begitu.”
“Karena aku memang berbeda.”
Ayah yang sejak tadi diam, mengangkat wajah.
“Sudah.” Hanya satu kata.
Tetapi tidak ada yang benar-benar berhenti.
Sebab kadang-kadang, yang membuat orang bertengkar bukan karena mereka membenci satu sama lain. Mereka bertengkar karena sama-sama merasa sedang memperjuangkan sesuatu yang benar.
Di rumah itu, pemilu selalu datang lebih cepat daripada hari pencoblosan.
Ia datang melalui televisi.
Melalui percakapan di warung.
Melalui grup keluarga.
Melalui berita yang dibaca pagi-pagi.
Melalui potongan video yang dikirim seseorang menjelang tidur.
Dan, tentu saja, melalui meja makan.
Ayah punya pilihan sendiri.
Ibu punya pilihan lain.
Mereka berbeda.
Benar-benar berbeda.
Kadang perbedaan itu membuat mereka tertawa.
Kadang membuat mereka kesal.
Kadang membuat makan malam selesai dalam diam.
Tetapi setiap pagi, mereka tetap saling bertanya:
“Sudah sarapan?”
“Motor ada bensin?”
“Jangan lupa bawa payung.”
“Kalau pulang malam, kabari.”
Barangkali keluarga memang bukan tempat orang-orang harus selalu sepakat.
Keluarga adalah tempat orang-orang boleh berbeda, lalu tetap memiliki alasan untuk pulang.
Ia baru saja melihat berita terbaru.
“Menurutku pemilu kali ini akan kacau,” katanya.
Nisa yang sedang membaca di ruang tengah tidak menoleh.
“Kenapa?”
“Karena orang-orang terlalu mudah percaya.”
“Termasuk kamu?”
Arif menatapnya.
“Termasuk kamu.”
Nisa menutup bukunya.
“Masalahnya bukan siapa yang kita percaya.”
“Lalu?”
“Bagaimana kita tetap berpikir meskipun orang lain berpikir berbeda.”
Arif tertawa kecil.
“Kamu sekarang bicara seperti dosen.”
“Dan kamu bicara seperti komentator televisi.”
Ibu yang sedang melipat pakaian di dekat jendela tersenyum.
Ayah tertawa.
Untuk beberapa detik, rumah itu kembali hangat.
Mereka lupa bahwa beberapa menit sebelumnya mereka sedang berdebat tentang sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin cukup untuk memutus pertemanan.
Hari pemungutan suara akhirnya tiba.
Pagi masih muda ketika mereka berangkat.
Langit mendung.
Jalan kampung basah oleh hujan semalam.
Ayah membawa payung.
Ibu membawa kartu identitas.
Arif berjalan di depan.
Nisa di belakang.
Tidak ada yang bertanya pilihan siapa yang akan dicoblos.
Mereka tahu satu hal, suara adalah rahasia.
Di TPS, mereka masuk satu per satu.
Bilik suara memisahkan mereka.
Untuk beberapa saat, mereka bukan ayah, ibu, anak, atau saudara.
Mereka hanya warga negara.
Dengan satu hak.
Satu keputusan.
Satu suara.
Ketika keluar, mereka kembali menjadi keluarga.
“Sudah?” tanya Ibu.
“Sudah,” jawab Arif.
Nisa mengangguk.
Ayah tersenyum.
“Kalau begitu, pulang.”
Tetapi tidak ada yang menyadari bahwa itu adalah salah satu perjalanan terakhir mereka berempat.
Beberapa bulan kemudian, Ayah jatuh sakit, awalnya batuk, lalu demam, lalu tubuhnya semakin lemah.
Rumah sakit menjadi tempat yang terlalu sering mereka datangi, koridor putih, lampu yang tidak pernah benar-benar padam, bau obat, kursi tunggu, suara langkah perawat dan doa-doa yang diucapkan dengan suara paling pelan.
Ayah membuka mata.
“Kalian masih suka berdebat?”
Arif tersenyum.
“Kadang.”
Nisa tertawa kecil.
“Sering.”
Ayah ikut tersenyum.
“Bagus.”
Arif mengerutkan dahi.
“Bagus bagaimana?”
“Berarti kalian masih punya pendapat.”
Kemudian Ayah terdiam cukup lama, napasnya terdengar berat.
“Ayah tidak takut kalian berbeda.”
Ia menatap kedua anaknya.
“Ayah hanya takut kalian lupa caranya saling menghormati.”
Nisa mendekat.
“Ayah…”
“Jangan jadikan pilihan politik sebagai alasan untuk kehilangan saudara.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tetapi rasanya seperti batu.
“Pemilu hanya datang beberapa tahun sekali,” katanya.
Ia menarik napas.
“Keluarga… setiap hari.”
Tidak ada yang berbicara. Nisa menggenggam tangan ayahnya, Arif menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, mereka tidak punya argumen.
Ayah meninggal tiga hari kemudian. Pagi itu tidak hujan, langit justru sangat cerah. Dan entah mengapa, langit yang cerah terasa lebih menyedihkan daripada hujan.
Rumah dipenuhi orang, doa, tangis, bisikan, ucapan belasungkawa. Setelah semua orang pulang, rumah itu menjadi sangat sunyi. Terlalu sunyi.
Ibu duduk sendirian di ruang tengah.
Arif berdiri di dapur, Nisa membuka lemari dan menemukan cangkir kesayangan ayahnya.
Cangkir putih dengan garis kecil berwarna biru.
Ia memegangnya lama, kemudian menangis. Bukan karena cangkir itu mahal. Tetapi karena benda-benda kecil sering menyimpan orang-orang yang sudah tidak bisa kita panggil kembali.
Malam pertama setelah pemakaman, mereka makan bertiga, ibu, Arif, Nisa, satu kursi kosong.
“Kenapa tidak ada yang duduk di situ?” tanyanya.
Tidak ada yang menjawab, ibu tersenyum tipis.
“Untuk apa, Bu?” tanya Nisa.
“Untuk Ayah.”
Nisa menangis, Arif menunduk, ibu mengambil sendok.
Dan malam itu, meja makan terasa seperti dulu.
Hanya satu kursi yang kosong.
Waktu berjalan, luka tidak benar-benar hilang, ia hanya belajar menjadi lebih tenang. Pemilu berikutnya datang, poster kembali memenuhi jalan.
Debat kembali memenuhi televisi, orang-orang kembali memilih, dan Arif serta Nisa kembali berbeda pilihan.
Suatu malam, mereka duduk di meja makan, Arif membaca berita di telepon genggam.
Nisa membaca artikel dari layar laptop.
“Kamu pilih yang mana?” tanya Arif.
“Rahasia.”
“Takut ketahuan?”
“Takut nanti kita berdebat.”
Arif tertawa.
“Berarti kamu belajar.”
“Belajar dari siapa?”
Mereka sama-sama melihat kursi kosong di ujung meja, tidak ada yang perlu menjawab.
Hari pencoblosan kembali tiba, Arif dan Nisa berjalan bersama menuju TPS. Ibu tidak ikut, ia memilih menunggu di rumah. Sebelum mereka pergi, Ibu hanya berkata “Jangan lupa pulang.”
Kalimat sederhana, tetapi kali ini terdengar berbeda, karena mereka tahu, ada seseorang yang dahulu selalu menunggu mereka pulang dan kini tidak lagi ada di rumah.
Setelah mencoblos, Arif dan Nisa berjalan pulang dalam diam. Di tengah jalan, Nisa berhenti.
“Mas.”
“Ya?”
“Kalau Ayah masih ada, kira-kira dia pilih siapa?”
Arif tertawa.
“Rahasia.”
“Benar juga.”
Mereka melanjutkan perjalanan, matahari sore jatuh perlahan di antara pepohonan, bayangan mereka memanjang di jalan. Dua orang, dua pilihan, satu rumah.
Malamnya, mereka kembali duduk di meja makan. Ibu sudah menyiapkan makanan, yiga piring, tetapi empat kursi. Kursi Ayah masih tetap kosong. Arif memandangnya, lalu mengambil nasi.
“Bu, aku lapar.”
Ibu tersenyum.
“Nah, begitu.”
Nisa tertawa.
“Ayah pasti senang.”
Mereka makan, tidak ada perdebatan, tidak ada saling menyalahkan, tidak ada usaha untuk memenangkan argumen. Hanya ada cerita tentang hari itu, tentang hujan yang hampir turun, tentang tetangga yang datang terlambat ke TPS, tentang anak kecil yang membawa payung terlalu besar, tentang kehidupan yang terus berjalan meski seseorang yang kita cintai telah pergi.
Sebelum makan selesai, Nisa menatap kursi kosong itu.
“Bu.”
“Ya?”
“Kalau suatu hari kita berbeda pilihan lagi…”
Ibu tersenyum.
“Berbeda saja.”
“Kalau berdebat?”
“Debatlah.”
“Kalau marah?”
Ibu meletakkan sendoknya.
“Marah boleh.”
Ia menatap kedua anaknya.
“Asal setelah itu tetap pulang.”
Nisa tersenyum.
Arif mengangguk.
Di luar, hujan akhirnya turun, pelan, seperti suara seseorang yang mengetuk pintu rumah dari kejauhan, dan untuk sesaat, mereka merasa seperti mendengar suara Ayah, bukan dari televisi, bukan dari kamar, bukan dari masa lalu.
Tetapi dari sesuatu yang lebih dalam dari suara, sebuah pesan yang tinggal di hati mereka, kita boleh berbeda dalam menentukan siapa yang kita pilih.
Tetapi jangan pernah berbeda dalam menjaga satu sama lain.
Malam itu, mereka menyisakan satu kursi kosong, bukan karena mereka belum menerima kehilangan. Melainkan karena mereka tahu ada orang-orang yang telah pergi dari rumah, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupan.
- Penulis: Lebah Senja

Saat ini belum ada komentar