Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Pemulihan Ekonomi Aceh Harus Berujung pada Kesejahteraan Masyarakat

Pemulihan Ekonomi Aceh Harus Berujung pada Kesejahteraan Masyarakat

  • account_circle Muhammad Yusuf
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • schedule 4 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Nasrul Sufi
Direktur Aceh Social Development (ASD) / Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik

Siribee.com » Pertumbuhan ekonomi biasanya disambut dengan kabar baik, angka yang naik dianggap sebagai tanda bahwa perekonomian bergerak ke arah yang lebih baik. Tetapi bagi masyarakat, terutama mereka yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, pertanyaan yang muncul sebenarnya sederhana, apa yang berubah setelah ekonomi tumbuh?

Pertanyaan itu penting bagi Aceh, sebab pertumbuhan ekonomi pada akhirnya bukan sekadar persoalan statistik, melainkan harus terasa dalam kehidupan masyarakat. Pendapatan meningkat, kesempatan kerja terbuka, usaha berkembang dan daya beli membaik adalah beberapa ukuran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukkan ekonomi Aceh pada Triwulan II 2026 tumbuh 4,86 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y). Ini merupakan perkembangan yang patut diapresiasi. Namun, pada Maret 2026, persentase penduduk miskin Aceh masih mencapai 12,34 persen atau sekitar 713,78 ribu orang.

Dua angka ini memberikan pesan yang perlu diperhatikan. Pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi pertumbuhan saja belum cukup. Pemerintah perlu memastikan agar manfaat pertumbuhan tersebut lebih luas dan tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu.

Dengan kata lain, ekonomi Aceh membutuhkan pertumbuhan yang lebih inklusif.

Masyarakat yang berada di sektor ekonomi rentan harus menjadi bagian penting dari kebijakan pemulihan ekonomi. Petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja informal, masyarakat desa, hingga pelaku ekonomi kreatif membutuhkan lebih dari sekadar program bantuan, mereka membutuhkan ekosistem yang memungkinkan usaha tumbuh dan bertahan.

Karena itu, Pemerintah Aceh perlu memperkuat program yang bersentuhan langsung dengan sektor produktif. Pertanian, perikanan, UMKM, ekonomi desa, industri pengolahan dan ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menciptakan pendapatan dan lapangan kerja.

Namun, program tersebut jangan berhenti pada pola pemberian bantuan, bantuan tetap diperlukan dalam kondisi tertentu, tetapi orientasinya harus jelas, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menghasilkan sesuatu secara berkelanjutan.

Masyarakat jangan terus-menerus ditempatkan sebagai penerima program, mereka harus diberi ruang dan dukungan untuk menjadi pelaku ekonomi yang produktif dan mandiri.

Di titik ini, kualitas sebuah program pemerintah sebenarnya bisa dilihat. Bukan hanya dari berapa besar anggaran yang tersedia atau berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari perubahan yang terjadi setelah program selesai.

Apakah pendapatan penerima manfaat meningkat? Apakah ada lapangan kerja baru? Apakah produktivitas usaha bertambah? Apakah usaha masyarakat mampu bertahan tanpa terus bergantung pada bantuan pemerintah?

Pertanyaan seperti ini seharusnya menjadi bagian dari evaluasi rutin.

Setiap rupiah anggaran publik memiliki tanggung jawab yang besar. Karena itu, program pemulihan ekonomi perlu memiliki indikator keberhasilan yang jelas, penyerapan anggaran memang penting, tetapi tidak boleh menjadi ukuran keberhasilan satu-satunya. Ukuran yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Pemerintah juga perlu semakin serius menggunakan data dalam merancang kebijakan. Program yang baik seharusnya lahir dari persoalan yang nyata dan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar dari asumsi. Pendekatan evidence-based policy dapat membantu pemerintah menentukan siapa yang paling membutuhkan intervensi, jenis dukungan yang tepat, serta bagaimana hasilnya dapat diukur.

Pada akhirnya, pembangunan ekonomi juga berkaitan dengan demokrasi.

Demokrasi sering kali dipahami sebatas pemilu, pemungutan suara dan pergantian kepemimpinan. Padahal, kehidupan demokrasi juga tercermin dari bagaimana pemerintah mendengar kebutuhan masyarakat dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan.

Ketika masyarakat menyampaikan persoalan ekonomi, lalu pemerintah meresponsnya melalui kebijakan yang tepat, di situlah demokrasi bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Demokrasi bukan hanya tentang bagaimana rakyat memilih pemerintah, tetapi juga bagaimana pemerintah menggunakan mandat tersebut untuk menghadirkan kebijakan yang bermanfaat bagi rakyat.

Karena itu, pemulihan ekonomi Aceh juga memiliki dimensi yang lebih luas, kebijakan yang tepat sasaran dapat memperkuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Sebaliknya, program yang besar secara anggaran tetapi kecil dampaknya dapat menimbulkan pertanyaan publik tentang sejauh mana kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Aceh membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tidak berhenti di laporan statistik. Pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, usaha yang lebih kuat, daya beli yang lebih baik dan penurunan kemiskinan.

Target akhirnya bukan sekadar anggaran terserap, tetapi masyarakat merasakan perubahan.

Karena itu, Pemerintah Aceh perlu terus memperkuat kebijakan pemulihan ekonomi yang terarah, terukur dan berkelanjutan. Aceh Social Development (ASD) siap memberikan masukan konstruktif agar berbagai program pemerintah semakin tepat sasaran dan memiliki dampak sosial-ekonomi yang nyata.

Sebab ukuran paling sederhana dari keberhasilan pembangunan adalah ketika masyarakat bukan hanya mendengar bahwa ekonomi sedang tumbuh, tetapi benar-benar merasakan bahwa hidup mereka ikut tumbuh bersama pertumbuhan itu.

  • Penulis: Muhammad Yusuf
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Amsal Alfian: Jejak Sunyi Menuju Ketua Umum PB PII

    Amsal Alfian: Jejak Sunyi Menuju Ketua Umum PB PII

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Siribee.com » Riuh tepuk tangan itu tak sekadar menggema, ia bergetar, memantul di dinding ruang sidang, seakan membawa denyut sejarah yang baru saja ditulis. Palu diketuk. Satu ketukan yang sederhana, tetapi sarat makna. Di jantung Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada 10-15 Februari 2026, Muktamar Nasional ke-33 Pelajar Islam Indonesia (PII) menandai lahirnya babak baru. Nama itu pun […]

  • Aksi Demonstrasi: Suara Rakyat atau Agenda Politik?

    Aksi Demonstrasi: Suara Rakyat atau Agenda Politik?

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Siribee.com – Demonstrasi kerap menjadi wajah nyata dari kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi. Ribuan massa memenuhi jalanan, mengangkat poster, meneriakkan aspirasi dan menyampaikan orasi dengan penuh semangat. Namun, di balik dinamika tersebut, pertanyaan besar selalu muncul, apakah aksi demonstrasi benar-benar mewakili suara rakyat, atau sekadar kendaraan bagi agenda politik tertentu? Dalam teori politik, demonstrasi adalah kanal […]

  • Rumoh Geudong Pidie: Memorial Living Park sebagai Destinasi Sejarah Aceh yang Inspiratif

    Rumoh Geudong Pidie: Memorial Living Park sebagai Destinasi Sejarah Aceh yang Inspiratif

    • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di tengah hamparan sawah yang hijau di Gampong Bili, Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie, berdirilah sebuah monumen yang bukan sekadar tugu, melainkan saksi bisu dari sejarah kelam Aceh. Inilah Memorial Living Park Rumoh Geudong, sebuah ruang peringatan yang didirikan untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi di masa lalu, sekaligus menjadi simbol harapan untuk masa depan […]

  • 5 Ciri Hoaks Politik yang Wajib Diketahui

    5 Ciri Hoaks Politik yang Wajib Diketahui

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Siribee.com » Hoaks politik menjadi salah satu tantangan dalam membangun ruang demokrasi yang sehat. Informasi yang tidak benar dapat memengaruhi persepsi publik, memicu konflik, bahkan membuat masyarakat mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang keliru. Di era media sosial, informasi politik dapat menyebar dalam hitungan menit. Masalahnya, informasi yang viral belum tentu benar, karena itu, masyarakat perlu […]

  • Secangkir Kopi di Sepertiga Malam

    Secangkir Kopi di Sepertiga Malam

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Lebah Senja
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Cerpen oleh: Lebah Senja Siribee.com » Malam selalu datang dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah tergesa-gesa. Perlahan ia menghapus warna jingga di ufuk barat, menyalakan bintang-bintang, lalu membungkus bumi dengan kesunyian yang hanya dipahami oleh mereka yang mencintainya. Di saat rumah-rumah memadamkan lampu dan manusia menyerahkan lelahnya kepada tidur, masih ada segelintir jiwa yang justru memulai harinya. […]

  • Syekh Abdurrauf al-Fansuri: Ulama Besar Aceh yang Mempengaruhi Dunia Islam Nusantara

    Syekh Abdurrauf al-Fansuri: Ulama Besar Aceh yang Mempengaruhi Dunia Islam Nusantara

    • calendar_month Selasa, 19 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Siribee.com » Syekh Abdurrauf as-Singkili, yang juga dikenal dengan nama Syekh Abdurrauf al-Fansuri atau Teungku Syiah Kuala, adalah salah satu ulama terbesar yang lahir di Singkil, Aceh, sekitar awal abad ke-17. Beliau tumbuh dalam suasana Aceh yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di Nusantara. Nama al-Fansuri merujuk pada asal-usulnya dari wilayah Fansur (Barus–Singkil), sebuah daerah penting […]

expand_less