Pertaruhan Elektoral Jokowi Menuju Senayan 2029
- account_circle NHS
- calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
- schedule 2 menit baca
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pendapat itu masuk akal. Hanya saja, membesarkan partai berbeda dengan merawat popularitas pribadi. Sebuah partai memerlukan pengurus yang bekerja, kader yang tumbuh, serta calon anggota legislatif yang dipercaya masyarakat, semuanya membutuhkan waktu.
PSI perlu menyadari perbedaan itu. Keramaian acara politik belum tentu mencerminkan kekuatan organisasi. Sambutan meriah terhadap Jokowi juga belum tentu berubah menjadi suara bagi PSI.
Warga di kampung, pasar, kawasan industri, dan pedesaan mempunyai urusan yang lebih dekat dengan kehidupannya. Mereka membutuhkan pekerjaan, penghasilan yang layak, dan pelayanan publik yang baik. Partai yang ingin dipilih harus hadir dalam persoalan tersebut.
Tantangan PSI bertambah karena aturan ambang batas parlemen untuk Pemilu 2029 masih memerlukan kepastian. Namun, berapa pun angka yang kelak ditetapkan, persoalan pokoknya tetap sama. PSI membutuhkan tambahan kepercayaan pemilih. Partai tidak bisa selamanya berharap memperoleh suara hanya karena dekat dengan seorang mantan presiden. Apalagi, mantan presiden itu kini tidak lagi memegang kendali pemerintahan
Pintu Agak Rapat
Menjelang 2029, Jokowi menghadapi pekerjaan politik yang berbeda. Ia tidak cukup hanya memperlihatkan kedekatan dengan PSI. Dukungan itu harus disertai tanggung jawab yang jelas.
Kaesang dan jajaran pengurus pun perlu membuktikan kemampuan membangun partai tanpa terus bergantung pada nama besar sang ayah. Regenerasi harus memberi ruang bagi lahirnya pemimpin baru. Bukan sekadar pergantian orang di pucuk organisasi.
Ini dari keadaan ini adalah bahwa pertaruhan Jokowi menuju Senayan bukan hanya perkara membawa PSI melewati ambang batas parlemen. Ada ujian yang lebih dalam. Ketika masih berkuasa, PSI belum berhasil memperoleh kursi DPR.
Kini, kekuasaan telah berganti tangan. Sebagian jaringan lama berubah, sementara warisan politik keluarganya masih diperdebatkan. Pengaruh Jokowi mungkin tetap bertahan. Namun, sejauh mana pengaruh itu dapat berubah menjadi suara rakyat masih harus dibuktikan. Kekuasaan bisa membuka banyak pintu. Tetapi, ketika kekuasaan berakhir, pintu yang sama belum tentu tetap terbuka. Terlebih pintu menuju Senayan.
- Penulis: NHS
- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar