Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Meurukon: Tradisi Aceh Merawat Perbedaan

Meurukon: Tradisi Aceh Merawat Perbedaan

  • account_circle Akmal Abzal
  • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
  • schedule 4 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Tgk. Akmal Abzal, S.H.I., M.H.
Pimpinan LPI Al-Ansar Lambaro, Aceh Besar, serta mantan Anggota KIP Aceh periode 2008–2013 dan 2018–2023.

Siribee.com » Ketika warga berkumpul di meunasah maupun di balee, yang berlangsung bukan hanya urusan ibadah. Tempat itu juga menjadi ruang untuk belajar, bertemu dan mewariskan pengetahuan. Dari lingkungan sosial semacam inilah Meurukon tumbuh dan bertahan sebagai salah satu tradisi lisan yang hidup dalam masyarakat Aceh.

Meurukon berlangsung secara berkelompok, dengan pengetahuan keagamaan disampaikan melalui syair atau nazam dalam bentuk tanya jawab. Seorang syaikh mengajukan pertanyaan, kemudian peserta menjawabnya secara bergantian atau bersama-sama. Dalam tradisi ini, bertanya dikenal sebagai sue-eu, sedangkan menjawab disebut jaweub. Materi yang disampaikan pun beragam, mulai dari akidah, fikih dan ibadah hingga berbagai persoalan keagamaan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Sekilas, meurukon mungkin terlihat sederhana, seseorang bertanya, yang lain menjawab, sementara yang lainnya menyimak. Namun, di balik pola yang sederhana itu, ada kebiasaan yang lebih dalam, pengetahuan tidak dipelajari sendirian, melainkan tumbuh dalam ruang bersama, melalui interaksi dan kebersamaan.

Meurukon bukanlah tradisi politik, apalagi tradisi yang sejak awal dirancang untuk mengajarkan demokrasi atau mengarahkan pilihan seseorang. Namun, cara tradisi ini berlangsung menyimpan nilai kebersamaan yang tetap relevan untuk direnungkan hari ini, terlebih ketika masyarakat berhadapan dengan sesuatu yang selalu hadir dalam demokrasi yaitu perbedaan.

Pemilu membawa masyarakat pada beragam pilihan, perbedaan itu bisa muncul bahkan di lingkungan yang paling dekat, dalam satu rumah, suami dan istri bisa memiliki pilihan politik yang berbeda, kakak dan adik pun belum tentu menjatuhkan pilihan pada orang atau partai yang sama. Begitu juga dengan tetangga dan teman yang setiap hari berjumpa dan berinteraksi.

Perbedaan pilihan semacam itu merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, yang perlu dijaga adalah agar perbedaan tersebut tidak berhenti sebagai pilihan di bilik suara, lalu berubah menjadi jarak atau bahkan pertentangan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, pilihan politik boleh berbeda, tetapi hubungan sebagai sesama warga tetap perlu dirawat.

Padahal, pemilu datang dan pergi dalam waktu yang terbatas, setelah pencoblosan usai dan hasil ditetapkan, kehidupan kembali pada rutinitasnya. Warga tetap tinggal di gampong yang sama, berpapasan di jalan, duduk semeja di warung kopi, berkumpul di meunasah dan saling membutuhkan dalam berbagai urusan sehari-hari. Pada titik itulah perbedaan pilihan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk menjauh satu sama lain.

“Menghargai pilihan orang lain menjadi bagian penting dalam kehidupan demokratis, menghargai tidak selalu berarti menyetujui. Setiap orang tetap memiliki kebebasan untuk meyakini dan menentukan pilihannya sendiri, sembari memberi ruang kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama, di tengah perbedaan itulah kehidupan bersama tetap perlu dijaga.”

Dalam konteks itulah meurukon terasa tetap relevan untuk dikenang, tradisi ini menunjukkan bagaimana pengetahuan tumbuh melalui percakapan, ada yang bertanya, ada yang menjawab dan ada yang bersedia mendengarkan. Proses yang sederhana, tetapi berlangsung dalam suasana kebersamaan.

Semangat semacam itu juga penting dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan bukan sesuatu yang harus dihapuskan, ia adalah bagian dari kehidupan bersama yang perlu diterima dan dikelola dengan saling menghargai, agar pilihan yang berbeda tidak berubah menjadi jarak atau permusuhan.

Pada akhirnya, pemilu bukan semata tentang suara yang diberikan di bilik suara, ada hal lain yang tak kalah penting, bagaimana masyarakat tetap berjalan bersama setelah pilihan masing-masing diketahui. Sebab, pesta demokrasi hanya berlangsung sesaat, sementara kehidupan sebagai tetangga, saudara dan sesama warga terus berlanjut.

Suara boleh berbeda, pilihan boleh tidak sama. Namun, perbedaan itu tidak harus membuat hubungan ikut terbelah. Menjelang Pemilu 2029, semangat untuk saling menghargai menjadi semakin penting, setiap orang berhak menentukan pilihannya dan pada saat yang sama perlu memberi ruang bagi orang lain untuk memilih secara bebas. Barangkali, di situlah kearifan Meurukon kembali menemukan relevansinya, berbeda pendapat bukan alasan untuk berhenti saling mendengar, menjaga kebersamaan, dan menghormati satu sama lain.

  • Penulis: Akmal Abzal
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bagaimana PKPU Dibuat? Dari Rancangan hingga Menjadi Aturan Pemilu

    Bagaimana PKPU Dibuat? Dari Rancangan hingga Menjadi Aturan Pemilu

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Siribee.com » Ketika sebuah Peraturan Komisi Pemilihan Umum atau PKPU terbit, masyarakat biasanya langsung melihat pasal-pasal yang mengatur apa yang boleh, wajib atau dilarang dalam penyelenggaraan pemilu. Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebelum sebuah PKPU sampai ke tangan penyelenggara di daerah, ada proses panjang yang harus dilalui. Siapa yang menyusun PKPU? Dari mana kebutuhan pengaturannya […]

  • Lembaga Penyelenggara Pemilu dan Badan Ad Hoc: Mengenal KPU, Bawaslu hingga KPPS

    Lembaga Penyelenggara Pemilu dan Badan Ad Hoc: Mengenal KPU, Bawaslu hingga KPPS

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Siribee.com » Dalam penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia, terdapat sejumlah lembaga dan jajaran penyelenggara yang memiliki tugas dan kewenangan berbeda. Masyarakat tidak hanya mengenal Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), tetapi juga terdapat KIP, Panwaslih, DKPP, hingga berbagai badan ad hoc yang bekerja di tingkat daerah dan tempat pemungutan suara (TPS). Secara […]

  • Pemilu 1971 dan Perubahan Besar Politik Indonesia: Bukan Sekadar Kemenangan Golkar

    Pemilu 1971 dan Perubahan Besar Politik Indonesia: Bukan Sekadar Kemenangan Golkar

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Pemilu 1971 merupakan pemilu kedua dalam sejarah Indonesia setelah Pemilu 1955. Digelar pada 5 Juli 1971, pemilu ini menjadi peristiwa penting karena berlangsung dalam suasana politik yang sama sekali berbeda dari pemilu pertama. Jika Pemilu 1955 berlangsung pada era demokrasi parlementer dengan persaingan banyak partai, Pemilu 1971 dilaksanakan setelah Indonesia melewati periode Demokrasi […]

  • Batik Nasional: Warisan Abadi yang Menyatukan Indonesia

    Batik Nasional: Warisan Abadi yang Menyatukan Indonesia

    • calendar_month Kamis, 2 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Setiap kali mendengar kata “batik,” yang terlintas di benak saya bukan hanya soal kain dengan motif indah. Lebih dari itu, batik adalah bahasa budaya yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur kita. Di setiap guratan lilin panas dan goresan canting, tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, alam, bahkan spiritualitas. Namun, ironisnya, masih banyak orang Indonesia yang memandang batik […]

  • 80 Tahun Merdeka, Bocah Gowa Masih Harus Mengais Sisa Snack Pejabat

    80 Tahun Merdeka, Bocah Gowa Masih Harus Mengais Sisa Snack Pejabat

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Nuzul Fahmi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Gelaran upacara HUT ke-80 RI di Lapangan Sultan Hasanuddin, Gowa, Sulawesi Selatan, idealnya menghadirkan suasana hangat, penuh energi, dan kebahagiaan bagi masyarakat. Namun, dibalik euforia kemerdekaan, publik dibuat tercengang oleh video yang beredar luas. Dua anak kecil, Syamsul (7) dan Muhammad Aidil (7), tampak mengumpulkan kotak snack yang berserakan setelah ditinggalkan pejabat. Adegan sederhana itu […]

  • Ketika Penyelenggara Jujur Justru Dijatuhi Sanksi

    Ketika Penyelenggara Jujur Justru Dijatuhi Sanksi

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Lebah Senja
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Cerpen oleh: Lebah Senja Siribee.com » Hujan turun pelan di halaman kantor KPU Kota Kembang malam itu. Lampu ruang pleno masih menyala ketika Ilham masih duduk di depan tumpukan berkas rekapitulasi suara. Matanya merah karena kurang tidur. Sejak tahapan pemilu memasuki masa penetapan hasil, hampir tidak ada hari tanpa tekanan. “Pak, pulang dulu,” ujar Sari, staf sekretariat […]

expand_less