Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Demokrasi » Apakah Demokrasi Bertentangan dengan Islam?

Apakah Demokrasi Bertentangan dengan Islam?

  • account_circle Akmal Abzal
  • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Tgk. Akmal Abzal, S.H.I., M.H
Pimpinan LPI Al-Ansar Lambaro, Aceh Besar, serta mantan Anggota KIP Aceh periode 2008–2013 dan 2018–2023.

Siribee.com » Pertanyaan apakah demokrasi bertentangan dengan Islam terus muncul setiap kali umat Islam membicarakan politik. Sebagian menganggap demokrasi sebagai konsep Barat yang tidak memiliki tempat dalam ajaran Islam. Sebagian lainnya melihat demokrasi sebagai jalan untuk menghadirkan keadilan, memilih pemimpin, dan membatasi kekuasaan. Dua pandangan ini sama-sama perlu diuji agar umat tidak terjebak pada kesimpulan yang terlalu sederhana.

Islam memang tidak mengenal demokrasi dalam bentuk sebagaimana dipraktikkan negara modern. Namun, Islam juga tidak membiarkan urusan kekuasaan berjalan tanpa prinsip. Al-Qur’an mengenalkan konsep syura atau musyawarah. Dalam QS Asy-Syura ayat 38, orang-orang beriman disebut sebagai mereka yang menyelesaikan urusan melalui musyawarah. Prinsip ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak semestinya dijalankan secara sewenang-wenang.

Di sinilah demokrasi memiliki ruang untuk dibaca secara lebih kritis. Demokrasi bukan agama dan bukan pula ukuran mutlak kebenaran. Ia merupakan sistem atau mekanisme politik yang terus berkembang. Karena itu, tidak semua unsur demokrasi harus diterima begitu saja, sebagaimana tidak semua unsur harus ditolak hanya karena istilahnya berasal dari tradisi politik Barat.

Masalah muncul ketika demokrasi dipahami sebagai kebebasan manusia tanpa batas. Dalam Islam, kebenaran tidak ditentukan semata-mata oleh jumlah suara. Mayoritas tidak dapat mengubah sesuatu yang telah ditetapkan haram menjadi halal. Seribu orang tidak dapat menjadikan kezaliman sebagai keadilan hanya karena mereka menyetujuinya. Dalam perkara seperti inilah Islam memberikan batas bahwa manusia tetap berada dalam tanggung jawab moral kepada Allah.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika demokrasi dipahami sebagai mekanisme untuk memilih pemimpin, melakukan musyawarah, mengawasi kekuasaan, menyelesaikan pergantian pemerintahan secara damai, dan memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan kritik. Prinsip-prinsip tersebut tidak otomatis bertentangan dengan Islam. Bahkan, sebagian di antaranya memiliki kedekatan dengan nilai syura, amanah, keadilan dan pencegahan terhadap kesewenang-wenangan.

Nabi Muhammad SAW juga tidak mengajarkan ketaatan kepada penguasa secara membabi buta. Dalam hadis riwayat Bukhari, ketaatan kepada pemimpin berlaku selama tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan. Pesan ini penting karena menunjukkan bahwa kekuasaan dalam Islam memiliki batas moral. Pemimpin bukan manusia yang memperoleh cek kosong untuk melakukan apa pun atas nama jabatan.

Karena itu, seorang Muslim tidak perlu menuhankan demokrasi, tetapi juga tidak perlu tergesa-gesa mengkafirkan demokrasi. Yang harus dinilai adalah prinsip, tujuan dan praktiknya. Pemilu yang jujur, pergantian kekuasaan tanpa kekerasan, pengawasan terhadap pemerintah, serta kesempatan rakyat menyampaikan aspirasi dapat menjadi instrumen untuk menjaga kemaslahatan. Sebaliknya, demokrasi yang dipenuhi manipulasi, politik uang, kebohongan dan penyalahgunaan kekuasaan justru bertentangan dengan nilai amanah dan keadilan yang diajarkan Islam.

Dalam konteks Indonesia, konstitusi menempatkan kedaulatan rakyat dalam kerangka Undang-Undang Dasar 1945 dan menegaskan Indonesia sebagai negara hukum. Pembukaan UUD 1945 juga memuat nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, permusyawaratan dan keadilan sosial. Artinya, praktik demokrasi Indonesia tidak harus dibaca sebagai salinan utuh demokrasi liberal, melainkan sebagai sistem politik yang memiliki konteks sejarah dan konstitusional sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan sekadar apakah kita menerima atau menolak demokrasi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: untuk apa kekuasaan digunakan? Jika kekuasaan dipakai untuk menegakkan keadilan, menjaga amanah, melindungi rakyat dan mencegah kezaliman, maka instrumen politiknya harus dinilai secara proporsional.

Islam tidak membutuhkan demokrasi untuk menjadi benar. Tetapi umat Islam juga tidak boleh menolak sebuah mekanisme hanya karena ia memiliki nama yang berbeda dari istilah yang dikenal dalam khazanah klasik.

Jangan menuhankan demokrasi, jangan pula membencinya secara membabi buta. Ukurlah politik dengan keadilan, kekuasaan dengan amanah dan kebijakan dengan kemaslahatan.

  • Penulis: Akmal Abzal
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alimuddin Armia: Tumbuh dari Kesederhanaan, Mengabdi untuk Ummat

    Alimuddin Armia: Tumbuh dari Kesederhanaan, Mengabdi untuk Ummat

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di sebuah kampung sederhana Cot Tunong, Kabupaten Pidie, Aceh, Alimuddin Armia tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan nilai agama dan tradisi pendidikan dayah. Dari kampung itulah perjalanan panjangnya dimulai, perjalanan seorang anak muda yang ditempa oleh kesederhanaan, pendidikan, kerja keras dan dunia aktivisme Islam. Lahir pada 8 Juli 1989 dari pasangan Armia bin Itam dan […]

  • Abu Daud Beureueh: Cahaya dari Aceh yang Layak Jadi Pahlawan Nasional

    Abu Daud Beureueh: Cahaya dari Aceh yang Layak Jadi Pahlawan Nasional

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Siribee.com » Teungku Muhammad Daud Beureueh, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Daud Beureueh, merupakan sosok yang tidak hanya berperan penting di Aceh, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia adalah ulama, pejuang, sekaligus pemimpin yang mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa. Sayangnya, hingga saat ini, pengakuan resmi negara sebagai Pahlawan […]

  • Jejak Partai Pemenang Pemilu 1955–2024 dan Perolehan Suaranya

    Jejak Partai Pemenang Pemilu 1955–2024 dan Perolehan Suaranya

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Siribee.com » Peta kekuatan politik Indonesia tidak pernah benar-benar tetap. Dari Pemilu 1955 hingga Pemilu 2024, partai yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan anggota DPR RI silih berganti mengikuti perubahan zaman, sistem politik dan dinamika masyarakat. Jika perjalanan tersebut ditarik hampir tujuh dekade, ada beberapa nama yang menonjol. Partai Nasional Indonesia (PNI) menjadi peraih suara […]

  • Pernikahan di Aceh, Perpaduan Sakral Antara Cinta dan Tradisi

    Pernikahan di Aceh, Perpaduan Sakral Antara Cinta dan Tradisi

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Yusuf
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Pernikahan di Tanah Rencong bukan hanya janji suci antara mempelai, tetapi juga perayaan luhur yang menggabungkan nilai keislaman, adat, dan pesona budaya lokal. 1. Prosesi Pra-Pernikahan Sebelum hari akad, biasanya keluarga kedua mempelai menggelar beberapa rangkaian acara, seperti: Peukong Haba ➔  Pertemuan pendahuluan yang mempertemukan keluarga kedua belah pihak untuk saling berkenalan dan membicarakan rencana lamaran secara […]

  • Pemilu Singapura: Ketika Stabilitas Politik Menjadi Prioritas Utama

    Pemilu Singapura: Ketika Stabilitas Politik Menjadi Prioritas Utama

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Di banyak negara demokrasi, pergantian pemerintahan sering kali diwarnai tarik-menarik kepentingan politik, koalisi yang rapuh, hingga kebijakan yang berubah-ubah. Namun, Singapura menunjukkan gambaran yang berbeda. Selama puluhan tahun, negara kota tersebut mampu mempertahankan stabilitas politik yang kuat dan konsisten, bahkan ketika dunia menghadapi berbagai gejolak ekonomi maupun politik. Salah satu kunci yang sering […]

  • Pemilu 1977: Ketika Politik Indonesia Disederhanakan

    Pemilu 1977: Ketika Politik Indonesia Disederhanakan

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 8
    • 0Komentar

    Siribee.com » Setiap kali Indonesia memasuki tahapan pemilu, perhatian publik biasanya tertuju pada calon, partai politik, kampanye, survei dan hasil penghitungan suara. Padahal, ada bagian penting dari perjalanan demokrasi Indonesia yang sering luput dari perhatian, bagaimana pemilu dirancang dan bagaimana ruang kompetisi politik dibentuk oleh aturan pada zamannya. Pemilu 1977 adalah salah satu episode penting […]

expand_less