Kamis, 1 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Aceh, Negeri yang Terlalu Sibuk dengan Citra

Aceh, Negeri yang Terlalu Sibuk dengan Citra

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
  • schedule 3 menit baca
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Siribee.com » Beberapa hari terakhir, Aceh kembali gelap. Listrik padam berjam-jam. Aktivitas masyarakat lumpuh. Warung kopi kehilangan pelanggan. Jaringan internet terganggu. Rumah-rumah sakit harus bersiap dengan cadangan daya. Sebagian warga bahkan mengeluhkan perangkat elektronik mereka rusak akibat listrik hidup-mati berulang.

Namun di tengah keresahan masyarakat itu, ada satu hal yang terasa ironis: ruang publik kita justru masih lebih ramai oleh pencitraan daripada pembicaraan serius tentang solusi.

Media sosial dipenuhi seremoni. Baliho ucapan terus berdiri tegak. Pejabat sibuk membangun kesan hadir di tengah rakyat. Tetapi ketika listrik padam massal melanda Aceh, publik seperti kembali diingatkan bahwa fondasi pelayanan dasar kita ternyata masih rapuh.

Inilah wajah paradoks Aceh hari ini, terlalu sibuk membangun citra, tetapi sering terlambat membangun sistem.

Padahal listrik bukan persoalan kecil. Ia adalah urat nadi kehidupan modern. Ketika listrik mati, bukan hanya lampu yang padam, tetapi juga aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, hingga komunikasi masyarakat ikut terganggu.

Ironisnya, Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi pun ternyata belum memiliki sistem perlindungan energi yang benar-benar kuat. Gangguan transmisi di luar daerah bisa langsung berdampak besar pada kehidupan masyarakat Aceh. Artinya, daerah ini masih sangat bergantung pada sistem regional tanpa mekanisme perlindungan mandiri yang memadai.

Di sinilah persoalan sebenarnya.

Kita terlalu sering sibuk menampilkan kemajuan, tetapi kurang serius memperkuat fondasi dasar pembangunan. Kita gemar berbicara tentang transformasi digital, kota modern dan kemajuan daerah, tetapi pelayanan paling mendasar seperti listrik saja belum sepenuhnya stabil.

Aceh akhirnya terjebak dalam budaya tampak baik.

Yang penting terlihat bekerja. Yang penting ramai di media sosial. Yang penting ada dokumentasi kegiatan. Sementara urusan mendasar yang menyangkut hajat hidup masyarakat sering berjalan lambat dan reaktif.

Padahal rakyat tidak hidup dari pencitraan.

Masyarakat tidak membutuhkan terlalu banyak slogan ketika listrik di rumah mereka terus padam. Anak muda tidak membutuhkan pidato panjang tentang masa depan jika infrastruktur dasar saja belum mampu menopang aktivitas modern. Pelaku usaha kecil tidak peduli seberapa megah narasi pembangunan jika usaha mereka tetap rugi akibat listrik yang tidak stabil.

Pemadaman massal kemarin seharusnya menjadi alarm keras bagi Aceh.

Bahwa pembangunan bukan sekadar soal acara seremonial, unggahan media sosial atau narasi besar tentang kemajuan. Pembangunan sejati adalah kemampuan negara menghadirkan pelayanan dasar yang andal, stabil dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sayangnya, kita hidup di zaman ketika citra sering kali lebih diprioritaskan daripada substansi.

Politik hari ini terlalu sering berubah menjadi panggung visual. Banyak energi habis untuk mengelola persepsi, bukan menyelesaikan persoalan. Kritik dianggap mengganggu citra. Evaluasi dipandang sebagai ancaman. Akibatnya, banyak masalah mendasar terus berulang tanpa pembenahan serius.

Aceh sebenarnya memiliki semua modal untuk maju. Daerah ini memiliki sumber daya alam besar, posisi strategis, dan generasi muda yang potensial. Tetapi kemajuan tidak lahir dari pencitraan yang terus dipoles. Ia lahir dari keberanian membangun sistem yang kuat meski tidak selalu terlihat glamor.

Membangun sistem kelistrikan yang tahan krisis mungkin tidak seviral seremoni politik. Membuat perlindungan energi bagi ibu kota provinsi mungkin tidak menghasilkan banyak tepuk tangan. Tetapi justru hal-hal seperti itulah yang menentukan kualitas hidup masyarakat.

Karena pada akhirnya rakyat akan lupa pada baliho dan slogan.

Tetapi rakyat tidak akan lupa bagaimana mereka hidup dalam gelap berjam-jam ketika negara belum benar-benar siap melindungi pelayanan dasarnya sendiri.

Aceh terlalu berharga jika hanya dijadikan panggung pencitraan.

Sudah waktunya daerah ini berhenti terlalu sibuk terlihat maju, lalu mulai sungguh-sungguh membangun kemajuan itu sendiri.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wastra Nusantara: Kain Tradisional yang Menyimpan Cerita dan Identitas Bangsa

    Wastra Nusantara: Kain Tradisional yang Menyimpan Cerita dan Identitas Bangsa

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Indonesia adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya, dan salah satu kekayaan itu terjalin dalam wastra nusantara. Wastra, dari bahasa Sanskerta, adalah sebutan bagi kain atau busana yang membalut raga sekaligus memelihara budaya. Namun, di balik selembar kain tradisional ini, tersimpan nilai sejarah, filosofi, dan keterampilan tinggi yang diwariskan lintas generasi.   Makna Wastra dalam […]

  • Mengapa Politik Uang Sulit Dibuktikan Meski Larangannya Sudah Jelas?

    Mengapa Politik Uang Sulit Dibuktikan Meski Larangannya Sudah Jelas?

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Politik uang hampir selalu muncul setiap kali pemilihan digelar, di tengah masyarakat, istilah seperti “serangan fajar”, pembagian uang, sembako atau bantuan yang dikaitkan dengan pilihan politik bukan lagi sesuatu yang terdengar asing. Ironisnya, kita sering berhadapan dengan situasi yang sama, banyak orang tahu politik uang terjadi, tetapi ketika diminta menunjukkan buktinya, persoalannya menjadi […]

  • Arus Tradisi, Riak Budaya: Pacu Jalur dan Aura Farming yang Mendunia

    Arus Tradisi, Riak Budaya: Pacu Jalur dan Aura Farming yang Mendunia

    • calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
    • account_circle Yusri Razali
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Pacu Jalur adalah festival lomba perahu tradisional yang berasal dari Kuantan Singingi, Riau. Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun, diperkirakan sejak abad ke-17, ketika masyarakat menggunakan jalur (perahu panjang dari kayu) sebagai alat transportasi di Sungai Kuantan. Lama-kelamaan, jalur tidak hanya dipakai untuk mobilitas, tetapi juga dijadikan ajang perlombaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Perahu […]

  • 5 Hal yang Perlu Diketahui Pemilih Pemula Sebelum Mengikuti Pemilu

    5 Hal yang Perlu Diketahui Pemilih Pemula Sebelum Mengikuti Pemilu

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Pemilu menjadi momentum penting bagi warga negara untuk menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan pemerintahan melalui suara yang diberikan di tempat pemungutan suara (TPS). Bagi pemilih pemula, pengalaman menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya tentu memiliki arti tersendiri. Namun, menjadi pemilih tidak cukup hanya mengetahui kapan dan di mana harus mencoblos. Pemilih juga perlu memahami bagaimana […]

  • Kursi Gibran Digoyang Gugatan, Prabowo Diminta Ajukan 2 Nama ke MPR

    Kursi Gibran Digoyang Gugatan, Prabowo Diminta Ajukan 2 Nama ke MPR

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1
    • 0Komentar

    Siribee.com » Jakarta – Kursi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi objek sengketa hukum di Mahkamah Konstitusi (MK). Sejumlah pihak mengajukan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden dan Wakil Presiden 2024 dengan mempersoalkan pemenuhan syarat pendidikan Gibran saat mengikuti Pilpres 2024. Perkara tersebut terdaftar dengan Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026. Sidang pemeriksaan pendahuluan telah digelar MK pada […]

  • Jarang Disorot, Ini Deretan Manfaat Belimbing Wuluh untuk Kesehatan yang Perlu Diketahui

    Jarang Disorot, Ini Deretan Manfaat Belimbing Wuluh untuk Kesehatan yang Perlu Diketahui

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Siribee.com » Belimbing wuluh selama ini lebih dikenal sebagai pelengkap dapur dibanding sebagai sumber nutrisi. Rasanya yang asam tajam membuat buah ini identik dengan campuran sayur, sambal, hingga olahan ikan. Namun di balik perannya sebagai penyedap alami, belimbing wuluh menyimpan potensi kesehatan yang menarik untuk dikaji lebih dalam. Buah dengan nama ilmiah Averrhoa bilimbi ini tumbuh subur […]

expand_less